Sabtu, 23 September 2017

Sajak : Diam

Sosok itu kini kembali dipikiranku. Entah mengapa, padahal aku tidak begitu mengharapkannya. Ya, jika kamu melihat postinganku beberapa saat yang lalu, aku sempat menggoreskan kata kata mengenai dirinya di blog ini. Sayangnya saat itu aku patah hati dibuatnya, dan kini postingan itu sudah aku hapus dan semenjak itu aku biasa saja dengannya.

Ya, kini aku memulai lagi postingan tentangnya. Tak apa, hanya sekedar menaruhnya dalam kenangan meski kutahu takkan ada kebahagiaan diantara kita.

Dia, orang yang ku kagumi semenjak hari itu. Parasnya indah, tak lelah ku memandangnya. Tapi dengan begitu, penggemarnya begitu banyak terbuay oleh pesonanya. Siapa yang tak suka, sosok sholih dari kejauhan dengan tinggi semampai dan paras yang sangat menarik. Tak ada yang mampu menolak lirikan matanya ketika lirihnya mengarah kepada diri.

Kurasa, ini salah satu penyemangatku. Walau ia tidak selalu bersamaku, bahkan tak jarang kami tak bertemu, tapi Allah mengirimkan semangat melaluinya. Kurasa dia baik, dan baiknya tak hanya kepada oranglain tapi juga kepada keluarganya. Sejauh ini, tiada kata kurang pada dirinya. This is just my opinion, belum tau kata oranglain seperti apa memandangnya.

Disatu sisi, aku harus ikhlas dan bersabar karena aku harus menjaga perasaan lain. Yap, tak sedikit oranglain yang menyukainya, mungkin bisa jadi temanku sendiri menyukainya. Itulah yang harus aku jaga, yaitu sebuah persahabatan yang baru saja terjalin tanpa campur tangan cinta. aku tau hati berhak memilih, tapi aku lebih tau bahwa persahabatan lebih utama untuk dipilih.

Tak jarang ku merasakan sakit diam diam untuk kesekian kalinya mendengar orang orang membicarakannya. Yap, apalagi mendengar jika ada seseorang yang menyukainya secara diam diam pula, sama sepertiku. Kurasa ini saatnya persaingan dimulai, bertarung didalam do'a dan  berikhtiar didalam diamnya kita.

Semoga Allah kelak menunjukkan siapa yang terbaik untuk kita, dan menunjukkan arti penting dalam diamnya kita.

Selasa, 19 September 2017

Happy Wedding My Sister

Seperti yang terlihat dipostingan instagram yang terakhir, kali ini aku akan menceritakan sedikit tentang proses pernikahan kakakku sampai akhirnya bisa berlabuh ke pelaminan.

Jadi ini, aku tau betul bagaimana sikap dan sifat selama 18 tahun aku lahir di dunia sebagai adiknya. Dari kepribadiannya pasti banyak pandangan yang bikin gak suka, bikin ilfeel, tapi banyak yang bikin kagum dan makin sayang. Kaya gini,

Jadi kaka aku udah coba yang namanya ta'aruf. Ta'aruf adalah proses pengenalan/pendekatan antar dua keluarga, nah ta'aruf disini artinya kaka aku mau mendekati jenjang pernikahan. Dimulai dari perkenalan melalui pertukaran biodata, kemudian pendekatan dengan keluarga, lalu mengutarakan niat baik, lamaran, dan akhirnya mempersiapkan pernikahan.

Selama ini aku cuma tau ta'aruf dari informasi yang ada mulai dari guru, teman, situs internet, buku, dan lain sebagainya. Tapi alhamdulillah dengan adanya kakakku ini aku belajar dari proses dan tahapan ta'aruf secara langsung itu apa.

Nah jadi gini, kakakku itu sebenarnya pernah gagal ta'aruf, dikarenakan pihak keluarga laki-laki ada yang keberatan untuk menerima kekurangan pada kakakku. Nah,jadi tuh di proposal bioadata pasangan selalu rercantumkan kelebihan dan kekurangan, pokoknya isinya lengkap gitu mengenai diri kita secara mendetail. Nah, mulai dari situ kakakku sedikit pesimis dan takut untuk memulai kembali proses ta'aruf. Namun disatu sisi, hadapannya menikah muda tetap berdiri kokoh dalam dirinya dan terus menjadi semangat untuknya.

Dan saat itulah ada seseorang yang berniat baik dan ingin berta'aruf dengan kakakku. Alhamdulillah wa syukurillah, ternyata Allah melancarkan semuanya dan berakhirlah rencana mereka hingga kepelaminan.

Rasanya senang, haru, dan penuh bahagia. Tapi disatu sisi, aku ngerasa hal aneh. kayak gini, ketika kalian punya barang kesukaan, dan tiba tiba barang itu dibeli sama oranglain dengan harga yang sesuai sama kebutuhan, yang akhirnya kalian rela melepas barang tersebut. Dan itu yang aku rasain ketika aku melepas kakak aku. Aku memang lumayan deket sama kakakku, walaupun deketnya gara gara suka berantem, tapi tiba tiba dia dilamar orang, dan aku berusaha ikhlas walaupun sekarang ngerasa dia bukan milik kita lagi, tapi udah punya oranglain.

Suatu saat kalian pasti akan ngerasa hal itu, terlebih kalo kalian punya saudara kandung.. dan aku sendiri ngalamin itu. Tapi semoga aja, mereka bisa hidup bahagia dan berkah pernikahannya juga menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah.

Dan pertanyaannya adalah..........
Apakah aku akan menikah melalui jalur ta'ruf seperti kakakku? Kira kira kapan ya.......hohoho