Kamis, 03 September 2015

Catatan Harian Rania

Siang itu, pelajaran sekolah sudah berakhir. Saatnya murid murid yang lain bergegas kembali ke rumah untuk isirahat dan mempersiapkan pelajaran untuk esok hari, walaupun ada sebagian yang harus masih di sekolah karena adanya jadwal ektrakulikuler atau sekedar kumpul organisasi. Yap, kala itu Rania harus kumpul ekskul pulang sekolah, jadwalnya jam 2 siang, namun jam masih menunjukkan pukul 13.00.

Kuambil hpku dan ku mainkan di tempat duduk, sembari membalas sapaan teman teman yang pamit pulang secara bergiliran. Rania yang saat itu ditemani oleh Jeje hanya bisa diam di kelas menunggu waktu kumpul. 

Rendi, dia adalah teman sekelas Rania yang saat ini menjadi pujaan hati Rania. Ya, tapi Rania hanya bisa memendam perasaannya karena khawatir malu ditertawakan teman sekelas. Rania yang saat itu memperhatikan Rendi yang tak kunjung pulang entah ada apa. Rania memang tak pernah bicara dengan Rendi terkecuali hal mendesak atau karena tugas, tapi selain itu mereka hanya saling diam.

Rania tak tau mengapa Rendi saat itu belum pulang. Dia berdiam diri di depan koridor kelas lalu duduk di kursinya sembari menundukkan kepala. Begitu saja kerjaannya, tak jelas. "mengapa tak pulang saja kalo begitu" ujar Rania dalam hati, ingin menengurnya namun rasa malu masih menghantui hatinya.

Sesekali Rendi memperhatikan Rania dengan mata tajamnya, membuat Rania sedikit takut ketika dia menatapnya. Entah apa yang Rendi pikirkan ketika ia melihat Rania, apakah risih atau ....?

.
.

Waktu telah menunjukkan pukul 14.00. Saatnya Rania pergi untuk kegiatan ektrakulikuler. Yap, Rendi masih saja berdiri depan koridor, dengan memberanikan diri, aku melewatinya dan berkata, "Rendi, duluan ya."

Duh, Jeje yang saat itu disampingku meledek Rania dengan refleks. Padahal saat itu jarak Rania dan Rendi masih dekat, khawatir terdengar oleh Rendi. Ya, begitulah Jeje, ngeselin, suka ngeledek, dan cerewet abis.

Ketika aku hendak ekskul, Jeje pamit pulang dan meninggalkan Rania sendiri. Namun tiba tiba Rendi datang membawa tasnya, kelihatannya ingin pulang juga. "Jadi, selama itu dia menunggu di kelas untuk apa? Apakah menunggu aku?" Ujar Rania dalam hati.
Rania yang saat itu deg degan luar biasa, jalan menuju ruang ekskulnya dan memperhatikan Rendi yang berjalan di sebrang sana. Seketika Rendi menengok ke arah Rania dan memperhatikan Rania. Sunggu berdebar hati Rania, lalu Rania memberanikan diri untuk melambaikan tangannya kepada Rendi.

Kemudian Rendi melambaikan juga tangannya kepada Rania.

Sungguh kejadian yang sangat membahagiaakan untuk Rania, "ternyata begini ya rasanya suka diam diam, ternyata dia rasain hal yang sama juga:)" tulisnya dalam catatan harian Rania.
Reaksi:

0 komentar: