Sabtu, 06 September 2014

Sepolos Anak Kecil

Sekolahku berdekatan dengan Masjid Raya Bogor, karena itulah kami selalu dituntut sholat berjamaah ketika waktu sholat dzuhur tiba. Tidak jauh, hanya harus berjalan 5 menit dari sekolah, kemudian siswa dan siswi memenuhi tempat wudhu dan kamar mandi masjid, itulah kegiatan rutin kami setiap hari.

Tapi hari ini ada yang beda, aku mendapat sebuah cerita untik dari seorang nenek pengunjung Masjid Raya bersama cucunya yang hendak ke kamar mandi untuk memakai pampers dan dua orang gadis kecil kakak beradik yang hendak mengantre di kamar mandi yang sama.
Nenek itu bersama seorang cucunya, umurnya berkisar 60tahun keatas. Dan kedua gadis tersebut memakai baju yang bermotif sama, hanya beda warna saja, memiliki gaya rambut yang sama dan wajah yabg mirip. Kira kira mereka berumur 5 tahun dan 4 tahun.

Ketika nenek hendak mengantre untuk buang air, sang cucu membawakan tas sang nenek dan menemani beliau untuk ke kamar mandi. Namun karena antrean mulai panjang, mungkin nenek tersebut sudah tidak sabar. Dan akhirnya dipakailah pampers untuk manula tersebut di tempat wudhu. Untungnya yang lain sibuk berwudhu dan tidak memperhatikan apa yang nenek tersebut lakukan. Tetapi ada dua anak yang terus memperhatikan nenek tersebut, sebutlah lili dan lala.
Seorang manula memang mulai kembali seperti anak kecil, mulai dari tingkah laku, sifat, emosional, dan lain sebagainya. Semua pengunjung yang melihat itu mewajarkan saja, karena kita mengerti memang begitulah sifat nenek ketika menjelang usianya. Sang cucu membantu neneknya untuk ganti, kemudian merapikan tasnya.

Terdengar bisik dua anak polos yang tak mengerti hal tersebut,
"Kak, kok nenek itu pake pampers ya?"
"Mungkin dia males ke kamar mandi dek."
"Bukannya gak boleh ya?"
"Gaboleh apanya?"
"Kok males sih.. kan gak boleh males"
"Udah dek biarin aja.. kitamah jangan males."
Aku yang tepat berada dibelakang mereka, terus memperhatikan pembincangan aneh dari anak itu. Sambil tertawa dan melihat dengan mimik muka berbeda karena penasaran. Kemudian aku menyeletuk,
"Kenapa dek? Kok ngeliatin neneknya terus? Ada yang salah?"
Nadaku sedikit menyindir saat bertanya kepada kedua anak itu, walaupun mereka tidak mengerti, tapi tatapan mereka saat melihat nenek itu seperti mengejek. Seakan aku tak terima.
"Gapapa kok kak, habis gak malu aja dia kok buka celana diluar. Haha" anak itu tertawa.
"Kalian gaboleh gitu, nanti juga kaian bisa kaya gitu kalo udah gede. Hayo..." aku membalasnya dengan senyuman.
"Akumah gamau kayak gitu kak." Celetuk adiknya.
"Memangnya bisa menolak apa yang Allah takdirkan?" Tanyaku layaknya bertanya kepada anak remaja.
"Maksudnya apa kak?" Anak kecil tersebut bingung dengan apa yang aku maksudkan.

Tak lama aku masuk ke kamar mandi karena antrean sudah menunjukku untuk masuk, begitupun adik tersebut yang berdua masuk ke kamar mandi.

Dari cerita tersebut, dapat kita simpulkan bahwa ketika kita dewasa atau bahkan manula nanti, kita sama sekali tidak bisa mengatur apa yang telah diatur oleh Allah. Seperti contohnya adalah ketika sikap kekanak kanakan kita kembali muncul saat kita manula,  perasaan malu sudah mulai berkurang dan harus dituntun kemana mana. Memang waktu tak ada yang tau, entah sampaikah umur kita dimasa tua, tapi setiap orang manula akan seperti itu. Maka wajarkanlah, janganlah penuh emosi dan jengkel ketika nenek atau kakek kita mulai rewel dan ngeribetin. Toh kelak kita akan menjadi sosok yang serupa seperti mereka, bahkan entah tidak tau akankah kita akan dibimbing anak anak atau cucu kita disetiap harinya.

Tak ada salahnya kita berbuat kebaikan untuk menyenyejukkan hati. Apalagi jika kebaikan itu untuk kita dan orangtua kita. Nenek dan kakek kita adalah bentuk dari orangtua kita. Maka kasihi lah mereka selagi mereka ada, sayangilah mereka sampai mereka mengakhiri hidupnya. Karena peran mereka untuk kita sangatlah banyak, hanya kebaikan dan hormat kepada mereka untuk membalas segala jasanya.
wassalamualaikum. Wr.wb
Reaksi:
This entry was posted in ,

0 komentar: