Jumat, 25 Januari 2013

Adik Terbaik yang pernah Ada...



Kisah ini mungkin saja terjadi dalam hidup anda..

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggungmereka menghadap ke langit.Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis disekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen darilaci ayahku.Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok,dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. 
Aku terpaku, terlalutakut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi
Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.



Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya! “Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi,
“Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagiyang akan kamu lakukan di masamendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Dipertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulaimenangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnyadan berkata, 
“Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.” 
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat,tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkokdi halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. 
Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…” 

Ibu mengusap airmatanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya?Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?” Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata,“Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi,telah cukup membaca banyak buku.” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Dan begitukemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjamuang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikkuyang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya, kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagimeneruskan ke universitas.Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikkumeninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikitkacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku danmeninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk keuniversitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang.Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikkuhasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi,aku akhirnya sampai ke tahun ketiga(di universitas) .

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketikateman sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusunmenunggumu di luar sana!”Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar,dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debusemen dan pasir. Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang padateman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab, tersenyum, “Lihatbagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahusaya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu? ” Aku merasaterenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dariadikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidakperduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalahadikku bagaimana pun penampilanmu. ..”Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu.Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, “Saya melihat semua gadis kota memakainya.Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis.Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.
Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana.Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.“Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untukmembersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalahadikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamumelihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendelabaru itu..”Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku.Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya.“Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.“Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasikonstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itutidak menghentikanku bekerja dan…”Ditengah kalimat itu ia berhenti.Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan akumengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapimereka tidak pernah mau.Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahuharus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak,jagalah mertuamu saja.Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikkumendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan.Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuahkabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya,saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer?Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius.Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya.“Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidakberpendidikan. Jika saya menjadi manajer sepertiitu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yangsepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahunitu, ia berusia 26 dan aku 29.
  • Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itubertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpabahkan berpikir ia menjawab, “Kakakku.”Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkantidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada padadusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama duajam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku.Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yangbegitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu,saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku danbaik kepadanya.”Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, “Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.”Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.
sumber: google.com
Reaksi:
This entry was posted in

0 komentar: