Jumat, 30 Maret 2012

Dua Saudara Kembar *by.Aca*


Kota Malang. Kota itulah yang menjadi saksi atas kelahiranku dan saudara kembarku. Aku terlahir sebagai anak perempuan kecil yang mungil, dengan rambut panjangku yang lurus.


            Namaku Nadifa Fitria, saudara kembar dari kakak laki-lakiku, Nadif Nurfikri. Ia hanyalah satu-satunya temanku selama 17 tahun ini. Tak ada yang mau berteman dengan orang cacat sepertiku. Teman sebayaku justru asik dengan teman-teman lainnya tanpa memperdulikan aku.
            Kakakku, Nadif, walaupun dia laki-laki, namun ia selalu sayang kepadaku. Walau aku kadang menyusahkannya, namun ia selalu sabar menghadapi aku. Terkadang, jarang bisa kutemui laki-laki yang baik hatinya seperti dia, tapi kali ini, ia ada dihadapanku dengan senyuman manisnya.
            Karena Ibu dan Ayah meninggal karena kejadian tsunami beberapa tahun lalu, maka dari itu aku hanya tinggal berdua dengan Nadif. Aku sangat bersyukur memiliki kakak yang baik seperti Nadif.
Suatu Hari…
            “Nadif, maukah kamu membelikanku obat yang kemarin? Obatku habis.” Tanyaku pada lelaki berambut jabrik itu.
            Dengan senang hati ia menjawab, “tentu, aku adalah kakakmu, apapun yang kamu butuhkan, aku akan berusaha mewujudkannya.”
            Kemudian, aku hanya tersenyum kepadanya. Betapa senangnya aku masih memiliki orang yang sangat baik seperti dia.
            Ketika sudah lebih 20 menit, ia pulang dengan tas kecil yang dijinjingnya. Lalu, dikeluarkannya obat tersebut dan ia membantuku meminum obat. Tak disangka, entah mengapa air mataku menetes dipipi.
“Dif, kamu kenapa? Kok nangis?” Tanya Nadif kepadaku.
“..” Aku hanya diam tanpa memperdulikannya.
“Dif, jangan sedih gitu dong. Kalau kamu sedih, aku juga jadi ikut sedih.. ” kemudian ia mengusap air mata yang menetes dipipiku dengan sebuah sapu tangan.
Nadif, mengapa engkau baik sekali kepadaku.. seperti mimpi rasanya, dalam hati kecilku berkata. Aku sangat menyayangimu, Nadif J
Aku dan Nadif sudah lama menyimpan tabungan uang untuk aku berobat. Lagi-lagi Nadif lah yang membantuku, karena kami ingat kata ibu dan ayah, kita harus bisa belajar mandiri. Maka itulah keputusan aku dan Nadif untuk belajar menabung demi pengobatanku.
“Nadif, mengapa engkau sebaik ini padaku? Padahal aku tak sebaik engkau yang sudah terlalu sering membantuku.” Tanyaku kepadanya.
“Difa, akulah temanmu, akulah saudara kembaranmu. Kau sedih, aku bisa merasakan itu. Kau sakit pun aku bahkan bisa merasakannya. Kamu sedang seperti inipun, aku merasa sepertimu, terlalu sedih untuk diungkapkan.”
“Nadif, sungguh mulia sekali hatimu. Aku sangat bangga memiliki saudara kembar seperti dirimu. Terima kasih ya.”
“Iyaa, Nadifa .. Samasama. Aku sayang kamu. Sekarang, kita berangkat ke Rumah Sakit yah.”
Aku mulai semangat menjalani hidup ini. Karena motivasi dari Nadif, aku akan berusaha mendapatkan apa yang aku inginkan di dunia ini. Makasih ya, Nadif.
Dengan kursi roda sepeninggalan kakek, aku dan Nadif segera pergi ke Rumah Sakit, aku akan melakukan terapi kaki. Aku ingin bisa jalan. Aku pasti bisa!
Sampai di rumah sakit, aku segera menemui dokter. Kemudian aku duduk di ruang tunggu. Selang beberapa menit, lalu inilah giliranku.
“Nadifa?”
“Iya, dokter.”
“Kamu dengan siapa datang kemari?”
“Saya bersama Nadif, dokter. Saudara kembar saya.”
“Nadif dan Nadifa? Nama yang bagus.. Kemana orangtua kalian, nak?”
“Orangtua kami terkena Tsunami beberapa tahun yang lalu. Kami hanya tinggal berdua di rumah.”
“Ohh, begitu, saya turut berduka yah. Oke, baiklah. Silahkan duduk diatas tempat tidur itu.”
“Terima kasih ya, dokter.”
Kemudian, diperiksalah kakiku. Kata dokter, kaki ini masih bisa sembuh, asalkan selalu di terapi rutin. Semakin bersemangatnya aku menjalani terapi ini. Setelah terapi selesai dijalani, Nadif langsung mengambil obat di apotek. Lalu, Nadif segera kembali.
“Nadifa, obatnya sudah kudapatkan. Sekarang, kita pulang yuk. ”
“Iyaa. Ayo kita pulang, aku sangat lelah.”
Sebelum pergi, Nadif  berhenti sejenak, dan berkata kepadaku, “Nadifa yang cantik, maafkan aku jika selama ini aku sering membuatku kesal, seringkali aku membuatmu menunggu lama. Aku juga manusia, aku bisa salah. Jadi, tolong maafkan aku ya.. ”
            “Nadif, mengapa kau bicara seperti itu?”
            “Tidak, aku hanya takut kau kecewa padaku. Banyak sekali kesalahan yang telah aku perbuat kepadamu.”
            “Tidak, Nadif. Kau tak pernah membuatku kecewa, bahkan aku yang sering membuatmu kecewa. Aku takut kehilanganmu, Nadif.”
            “Kau tak perlu takut, Nadifa. Aku selalu ada untukmu. Aku selalu ada disampingmu, percaya itu. Buatlah hari-harimu selalu penuh canda dan tawa. Buatlah hatimu senang dan bahagia. Aku yakin kau bisa itu.”
            “Aku sayang padamu, Nadif.”
            “Aku sangat menyayangimu, Difa.”
            Baru teringat di tengah jalan, obat yang tadi diambil ternyata tertinggal di ruang tunggu. Nadif segera berlari untuk kembali ke Rumah Sakit itu. Lama sekali Nadif kembali, sudah beberapa menit aku menunggu.
            Berfikir hal yang tadi dikatakannya, aku harus memaklumi dia, mungkin kata-kata ia tadi kini sedang terjadi, mungkin dia akan telat. Namun, dugaanku meleset! Sudah 2 jam aku menunggu dia disini, namun ia tak datang juga.
            Sampai malam aku menunggu di tempat itu. Nadif tak datang kembali. Tentu aku khawatir. Ataukah Nadif sudah pulang lebih dulu? Tetapi, Nadif tak mungkin meninggalkanku sendiri disini. Kalaupun ia lupa, mungkin dia akan kembali ke tempat ini. Tetapi, karena aku sayang Nadif, aku akan tetap menunggunya disini.
            Sampai paginya, aku masih berada di tempat itu. Kemudian, seorang ibu menghampiriku di pagi yang gelap itu.
“Adik? Sedang apa disini? Sepertinya sudah lama sekali menunggu disini.”
            “Aku menunggu Nadif, saudara kembarku. Dia tak kembali setelah mengambil obat di apotek.”
“Nadif? Seorang laki laki muda yang berambut jabrik? Apakah itu Nadif?”
“Iya, itu Nadif. Mengapa ibu bisa tau?”
“Kemarin, saya menolong seorang yang berambut jabrik, ia masih terlihat sangat muda. Dengan darah yang menetes di kepalanya.”
“Apa? Nadif?”
“Iya tak sempat ku bawa ke rumah sakit, karena di detik itulah dia sudah tidak bernafas.”
“Nadif…………”
Tak disangka, Nadif lebih cepat meniggalkanku. Nadfi bohong! Nadif bilang ia akan selalu ada di sampingku. Tapi mana? Dia malah pergi lebih dulu. Ya Allah, apa ini?Aku kangen Nadif, aku kangen semua nasihat Nadif, aku kangen dengan kata2 bijaknya Nadif, aku kangen dengan ocehannya Nadif, aku kangen ucapan sayangnya Nadif, aku kangen Nadiiiiiiiiiiiiiiif.
Tak terbayang berapa tetes air mata yang saat itu buang. Tak ada lagi yang bisa mengusap air mata di pipiku, tak ada lagi canda tawanya, tiada lagi kasih sayangnya, kini tak ada lagi teman untukku. Nadiif :’(
Aku akan mengingat semua kata-katamu, Nadif. Walau hati berat untuk melepaskanmu, aku bisa menjalani hidup dengan baying-bayangmu, Nadif. Aku sayang kamu :*
“Kau tak perlu takut, Nadifa. Aku selalu ada untukmu. Aku selalu ada disampingmu, percaya itu. Buatlah hari-harimu selalu penuh canda dan tawa. Buatlah hatimu senang dan bahagia. Aku yakin kau bisa itu.” -Nadif-
Reaksi:
This entry was posted in

0 komentar: