Selasa, 29 November 2011

Curhat kepada Allah :)


Assalamualaikum.

            Hidup memang perlu banyak perjuangan. Di dalam hidup-pun pasti ada masalah kecil dan besar,dan pasti ada juga yang namanya penderitaan hidup yang seiring dengan rezeki. Berjalannya hidup.. berjalannya waktu.. Seperti halnya roda yang berputar. Kadang dibawah dengan penderitaannya,kadang di atas dengan rezeki kita.
This entry was posted in ,

Ngakak baca cerita bikinan waktu kelas 5 ckck


 Pada suatu hari aku melihat seorang wanita yang sedang merenungkan diri,dia tampak sedih seperti kehilangan sesuatu. Aku rasa dia kehilangan anak kandung dia sendiri,yang sedarah dengannya. Diapun menangis dengan sesedih wanita yang akan meninggal dunia. Tetapi wanita itu seperti wanita gila yang menyedihkan,,,sedihnya aku melihat wanita itu...”Ya Allah tunjukkanlah kemana anak yang sudah dikandung wanita gila itu selama 9 bulan lamanya”. Dan aku tak tau juga kemana sang suami wanita itu...aku kasihan melihatnya,dengan izin Allah saya bertanya kepada wanita itu dengan ragu dan takut...”permisi...ibu kenapa?”...”Anak saya hilang begitu saja..saya tidak tahu dimana anakku itu..”jawabnya wanita itu.

    Dia mencari terus hingga bertemu. Ternyata yang aku pikir salah...wanita itu hanya tak tau mana anaknya...kiraku wanita itu gila tak punya rumah,,,dan ku tanya dia kembali”bu..mana suami anda...?”.......”saya tidak tau saya tidak menikah sejak lama...”.”lalu anak ibu.....?””saya dihamili oleh seorang lelaki yang gagah dan sepertinya dia begitu kaya,,,! tapi saya tak tau siapa nama nya...”Wanita itu bicara dengan bercampur tangisannya yang menyedihkan...kasihan sekali wanita itu aku hingga menangis melihatnya...danku antarkan dia ke rumahnya,,,,sewaktuku lihat rumah wanita itu...

Ternyata rumahnya begitu kecilllllllnya rumah itu seperti pos yang ditempati oleh satpam di sana...dan rumahnyapun terbuat dari tripleks...dan bolong-bolong sepertinya ketika hujan dia kehujanan dan banjir bandang...dia ku ajak ke rumah yang cukup besar baginya.....                                  
This entry was posted in

Thank You Allah :)


Pelangi kehidupan, itulah hari hari yang pernah aku rasakan bersama sahabat-sahabatku. Aku punya banyak sekali sahabat, namun aku tak tahu, apakah mereka menganggapku sebagai sahabatnya? Itu hanya dia dan Allah yang tahu.

This entry was posted in ,

Minggu, 25 September 2011

In Home Hilya Ramadania Siyauqi Maudah (24 September 2011)

Hilya Ramadania Siyauqi Maudah, lengkapnya. Teman teman lebih suka memanggilnya Hilya di kelas. Wajah yang imut, kecil, lucu, putih, bermata belo dan bulu mata yang lentik, itulah Hilya. Orangnya baik, pintar, dan kalau kalian tau, Hilya tuh kalau ketawa ngakak pasti lucu deh ;)

Hari Sbtu lalu, tepatnya tanggal 24 September 2011, aku baru saja ke rumah Hilya, bersama Tyas, Ghina, Zira, Kalista, dan Asfa. Ketika sampai di depan rumah yang minimalis itu, membuat kami semua penasaran ingin rasanya segera masuk.

"Ayo Masuk.." Bujuk Hilya.

Kemudian kami masuk lalu menyimpan tas di kamar hilya. Bicara tentang Kamar Hilya, mungkin kalau dilihat sih tidak begitu besar, tapi, ketika kami masuk ke dalam kamarnya, kami langsung berlenggak lenggok melihat di sekeliling kamar hilya, semuanya begitu tertata rapi pada tempatnya, semua yang ada di kamar Hilya berdominan warna merah muda, waw, wanita sekali!

Rumah hilya terdiri dari 5 ruang kamar, 3 ruang kamar mandi, teras dan balkon atas, 2 ruang keluarga, dapur, ruang makan, musholah + gajebo, dan masih banyak lagi ruangan bagus dan rapi. Kamar mandi lantai bawah, berdominan warna abu2 dan putih, kamar Hilya dan adiknya, warna merah muda. Kamar ibunya, berdominan hijau, hitam, dan putih, dapurnya merah dan hitam, dan semua ruangan di cat dan di dominkan dengan warna furniturenya. Waw.. Rajinnya yaa :) Hahaha.

Pertama menginnjakan kaki kami di rumah hilya, kami segera shalat dzuhur, karena waktu shalat sudah lebih satu setengah jam, yup, jam 2.30 shalat baru dimulai.

"Siapa yang mau jadi imam?" Tanya Hilya.
"Aca aja." Usul Tyas.
"Lah? Aku?" Jawabku.
"Iyaa, siapa coba yang paling tua disini?" Tyas.
"Aca!" Kata Kalista.
"Hahaha, yasudah."

Lalu sholat itu dimulai dengan imam Sasa dan dzikirnya Tyas, dengan yang membacakan doa, Zira.

Shalat itu belum berjalan lancar, dikit2 ketawa lagi, dikit2 batal lagi, itulah kami, pasti ada saja yang mengganggu.

Setelah Shalat, kami foto-foto di dalam rumah Hilya. Setelah itu kami segera makan siang.

"Aca, kamu makan yang banyak ya." Hilya sambil menyodorkan satu centong Nasi ke atas piring Aca.
"Biar ga kurang gizi ya, ca." 2 centong nasi.
"Kan aca pinter." 3 centong nasi.
"Abisin ya, Ca." 4 centong nasi.

"Hah?" Aku cengo #hahaha
"Banyak banget."
"Gapapa." Kata Hilya.
"Lit, mau ga?" Tawarku memberi kepada Kalista.
"Sini sini sini .." Kalista mengambil piringku, dan mengambil separuh nasiku.
"Nah, pas."

"Aca, dikit banget, lita.." Protes Tyas.
"Hahaha."

Setelah makasn selesai, kami main di kamar hilya, sambil menonton televisi dan berfoto ria. Jepreeet...Jepreeet.

Stelah itu, Hilya mengajak kami untuk jalan-jalan, di sekitar taman yasmin aja.
"Mau ke rumah Pasha ungu ga?"
"Hah? emang disini?"
"Iya, deket tuh, disana."
"MAAAAAUUUUUU!!!!!"

Dalam perjalanan yang melelahkan itu, kami asyik bercanda, teriak, main hp, foto2, bercerita, dan bernyanyi.
"Bukan Maksud diriku, melukai hatimu, namun aku juga wanita, yang ingin merasakan Cintaaaaa.." Aku dan kalista bernyanyi.
"Ehh, dzikir, jangan nyanyi terus, nannti di tepuk orang gimana?"
"Oiyaya!"
"Subhanallah, Wlhamdulillah, WalailaaHaillallaaah :)"
"Ehh, kalau salah satu dari kita ada yang di tepuk, langsung teriak ya."
"Ha?"
"Iya, biar orang nolongin."

Sampainya di Depan Rumah Pasha 'Ungu' depan rumahnya begituuu besar, denagn pagar yang bertuliskan hurug G, dan terdengar suara nyanyian dari dalam rumahnya.

"JREEENG JREENG, WOOO U WOOOO.."
"ssst....."
"Pasha ungun nyanyi?"
"Iya Kali, makanya diem! Dengerin dulu..."
"eH.."
"Bukan, kamu.."
"Siapa yang nyanyi?"
"Itumah Satpamnyaaa."
"Iya?"
"Iyaaa.."
"Suaranya Fals gitu juga. Wkwkwkw."
"Hahaha."

Setelah itu, kami berjalan kembali menuju Rumah Hilyaaaa. Dengan Capai dan lelah, kami langsung minum.
This entry was posted in

Jumat, 09 September 2011

Ibuu !!!!


Tersentak hati Bu Dina mendengar permintaan anaknya. Anak laki-lakinya ingin ditiduri, ingin diberi kehangatan darinya….kehangatan seorang wanita. Kehangatan…hmm……
—oooOooo—
Sebagai seorang wanita yang cantik, Dina memiliki hampir segala yang diimpikan kaum wanita. Parasnya ayu, manies dan selalu enak dipandang. Bentuk hidung, mata, alis, bulu mata hingga ke garis pipi yang tertata indah bak bulu perindu diatas bintang timur diwaktu senja. Posturnya tubuhnya sangat ideal untuk seorang wanita. Kulitnya yang putih dan jenis rambutnya yang panjang hitam bergelombang menambah nilai keaggunannya. Kemolekan lekuk tubuhnya menyebabkan ia sering disebut wanita terseksi.
Dina, seorang wanita karir pada salah satu perusahaan swasta besar di Ibukota, termasuk wanita yang cerdas. Ditunjang pendidikan formalnya yang merupakan alumni Pasca Sarjana Komunikasi Universitas ternama.
Loyalitas terhadap perusahaan tidak diragukan lagi, sehingga menjadikan dirinya sebagai salah satu ’maskot’ pegawai diperusahaannya. Tak heran bila karirnya bagai ’rising’ star. belum sepuluh tahun bekerja, dia sudah menduduki jabatan penting, setingkat Department Head (Kepala Bagian). Dikenal dekat dengan bawahan. Suppel dan mampu berkomunikasi dengan baik dengan jajaran pimpinan. Tipikal Dina selalu menjadi bahan pembicaraan dikalangan pegawai, gunjingan hingga tentu saja ’fitnah’ dari orang-orang yang tidak menyukainya. Apalagi ketika terdengar kabar bahwa dia akan dipromosikan menjadi salah satu deputy kepala divisi.
’ah…paling dengan keseksiannya’ kata mereka yang tidak suka.
—oooOooo—
”Ibu mau kemana….?” tanya Fitri, puteri bungsunya
”Ibu mau berangkat ke kantor nak…” jawab Dina, sambil merapihkan pakaiannya
”Kok masih gelap bu….bareng ayah gak bu…?” tanya Fitri lagi dengan bahasa anak yang agak cadel
”Ayah khan belum pulang nak. Masih di Bandung…” jawab dina, tanpa memalingkan wajah dari cermin hiasnya
Jam masih menunjukkan pk. 04.25 pagi. Hari masih gelap. Anak-anaknya masih terlelap, kecuali Fitri yang terbangun karena mendengar suara peralatan riasnya.
”Aku tidak boleh terlambat…aku harus tiba sebelum Bos dan Klienku datang..” pikir Dina dalam hati
”Bu, aku masih mau tidur….” kata Fitri
”Iyya nak….”
.Dina mencium kening anak puteri satu-satunya itu. Dengan penuh kasih sayang dipeluknya erat sambil berkata pelan, ”Nanti sekolah sama si Mbok ya….sarapan disekolah juga gak apa-apa kok…Ibu harus berangkat pagi-pagi…”
”Ah, Ibu…kemarin sudah pegi pagi…kemarinnya lagi pagi, sekarang pagi lagi…” keluh Fitri, dengan menggeleng-gelengkan kepalanya
”Fitri, Ibu bekerja juga untuk Fitri. Untuk sekolah Fitri dan Adit…..untuk membelikan Fitri rumah-rumahan dan masak-masakan…” jawab Dina pelan
”Tapi Ibu selalu pulang malam. Fitri gak pernah tidur bareng Ibu. Makan sama si Mbok…sekolah juga sama si Mbok….” keluh Fitri lagi sambil menggulingkan tubuhnya.
”Fitri, Ibu mau berangkat…..kamu berangkat sama si Mbok ya…!” seru Dina dengan sedikit keras dan wajah agak memerah.
Dina segera keluar kamar. Dia memang tidur bersama anak puterinya yang masih berusia tiga tahun.Ketika akan membuka pintu kamar, Dina menyempatkan diri melihat raut wajahnya dicermin.
Terlihat jelas rona merah diwajahnya. Warna kulitnya yang putih menambah kejelasan ’rona merahnya’. Dina menghela nafas panjang, kemarahan sesaat telah merubah tutur bahasanya. Sudah merubah pula paras ayunya…
”Huh…Fitri selalu membuat aku marah….Fitri sering memperlambat jalanku ke kantor…” keluhnya sambil mengusap keringat didahinya.
”Ah sudah pk. 04.45…aku bisa terlambat …”
Dina mempercepat langkahnya. Sampai diteras rumah keraguan muncul dihatinya….Dia belum sempat bicara dengan Adit, anak sulungnya…
”Ah dia khan sudah tujuh tahun. Sudah lebih besar. Dia pasti ngerti lah…”
—oooOooo—
Presentasi mengenai pengembangan perusahaan, khususnya bidang komunikasi, kemitraan dan pemasaran yang dipaparkan Dina memdapatkan sambutan luar biasa dari Stake Holder (Pemegang Saham, Komisaris, Jajaran Direksi dan Mitra Kerja). Sambutan itu ditandai dengan tepuk tangan meriah sambil berdiri dan ucapan selamat yang seolah tak putus.
Senyum sumringah tersembul dari wajah Dina. Perasaan puas memenuhi rongga hatinya. Dia menghela nafas panjang. Memejamkan mata sesaat….”Akhirnya aku berhasil….”
Untung aku bisa mempersiapkan diri dengan baik. Untung juga aku tiba lebih awal sehingga bisa mengkondisikan semuanya…….
”Dina selamat ya….tidak sia-sia kami menempatkan kamu sebagai Dept Head Promosi & Kemitraan…..” kata seorang Direksi sambil menjabat erat tangan Dina.
Jabatan tangan yang terasa ’lain’. Terasa ada getaran ’hangat’ yang menjalar melalui jari-jari terus hingga pangkal tangan, dan meluncur deras dihati. Jantung berdegup kencang…entah perasaan apa itu. Yang jelas perasaan itu membuatnya pikirannya ’kacau’, hatinya diliputi oleh suatu misteri..entah misteri apa
”Dina, kerja kamu luar biasa…..masih muda, cantik, jenius….tak salah jika Perusahaan memberimu posisi tsb…..” kata seorang Komisaris
Pujian komisaris menambah kencang degup jantungnya…seolah darah berhenti mengalir. Seolah kaki sulit untuk digerakkan. Dengan menghirup nafas pelan, Dina membalas pujian tsb
”Terima kasih Pak..terima kasih…semua berkat bantuan dan bimbingan Bapak…”
”Berapa usiamu sekarang… adakah 40…?” tanya Komisaris itu lagi
Dina tersipu malu…..rona merah kembali menghiasi wajahnya….
”Saya baru 34…. Pak…” jawab Dina sambil tertunduk malu
”Wow…Surprise…kita memiliki calon direksi termuda. Cantik, jenius dan ber-visi…semoga kamu sukses ya….”
Dina terkesima. Tak percaya. Calon direksi….? ah, gak mungkin… aku salah dengar….
—oooOooo—
Minggu, pk. 04.00 Dina terbangun.
Ohhhhh….lelah pikiran dan badannya membuatnya agak sedikit malas untuk bangun. Namun undangan stake holder untuk sekedar minum kopi pagi di Kafe Padang Golf mengharuskan dia untuk segera bergegas…..
”Ah….ngantuknya…..”
Dina kembali merahkan badannya….rasanya dia ingin meliburkan diri bersama anak-anaknya….terutama Fitri yang kemarin membuatnya sedikit marah….
Tapi…undangan Direksi dan Komisaris adalah sebuah ’Perintah’…laksana titah Raja yang harus dijalankan, meskipun hanya ajakan sambil lalu…
”Ahhhh…..”
Dina mulai menyiapkan diri. Mandi pagi dan sedikit bersolek….tampil agak cantik dan…hmmmm..seksi dikit rasanya tidak apa-apa. Toh akan bersantai bersama orang-orang penting ’penguasa’ kantor….’apalagi bila….bila ada yg tertarik padaku…’ pikirnya..
’ah pikiran ngelantur…..’ pikirnya lagi
”Ibuuuu….Tolong tiduri aku Bu….” seru Adit sambil berjalan pelan dan membawa bantal guling yang sarung entah kemana
”Adiiit….?” tanyanya heran
”Adiit….” seru Dina kembali. Heran, tidak biasanya Adit bangun pagi dan pindah ke kamarnya.
”Ibuuu…tolong tiduri aku bu…semalam aku gak bisa tidur…aku kepikiran Ayah….aku ingin bermain bersama Ayah….”
”Adit. Hari ini Ibu masuk kantor….Ibu akan bertemu Bos di kantor…” jawab Dina
”Ibuuu…tolong tiduri aku…aku ngantuk …pengen tidur bareng Ibu…” pinta Adit, kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan Dina, Ibundanya…
Dina terdiam. Hatinya semakin membuncah….perasaan malas memenuhi undangan Direksi kembali muncul….tapi motivasi untuk memperlihatkan loyalitas demikian tinggi…dus, dia sudah berdandan seksi.
Diusap-usap perlahan kepala Adit. Rambutnya yang sedikit ikal bergelombang mirip seperti rambutnya. Bentuk wajahnya yang agak oval dan halus merujuk pada ayahnya…
”ahhh..aku jadi ingat Mas Darman. Wajah Adit mirip ayahnya….semalam dia memberi kabar kalau Meeting di bandung diperpanjang karena banyak Klien baru yang ikut datang….” bathin Dina dalam hati….seketika ia merasa bersalah dengan suaminya.
”Adiiit, Ibu harus pergi sayang…..Ibu harus masuk kantor…..”
”Tapi buu…” Adit tidak bisa meneruskan kalimatnya, karena Dina mengangkat kakinya perlahan, sehingga kepala Adit berpindah ke bagian pinggir tempat tidur.
Dina meneruskan riasannya dimuka cermin yang ada di sisi kanan tempat tidurnya. Bibirnya diolesi lipstick tipis warna merah muda, sesuai dengan pakaian yang dikenakannya. Pakaian terbaik yang dimilikinya, hadiah Ulang Tahun dari Mas Darman suami tercinta.
”Mas Darman pasti akan silau bila melihat aku sekarang. Pasti akan memujiku ’Cantiiik’..hehehe…sayang dandananku saat ini untuk orang lain….”
”Huk..huk..huk..” suara batuk kecil beriak keluar dari mulut Adit
”Adiit, kamu batuk. Jajan apa kamu kemarin” tanya Dina sambil terus memainkan penghalus bedak dipipinya
”Huk..huk..huk..” suara itu kembali terdengar
“Mboookkk….tolong ambilkan air putih hangat. Adit batuk nih” teriak Dina dari dalam kamarnya
Tepat pk. 05.00 Dina meluncur menuju Kafe Padang Golf. Perjalanan akan memakan waktu 30 menit. Cukuplah. Karena pertemuan dan sarapan kopi pagi baru akan dimulai pk. 06.00. Tapi biasanya banyak yang sudah datang dengan perlengkapan stick golf, termasuk pemilihan ’caddy’ pendamping permainan golfnya nanti.
—oooOooo—
Dina sangat menikmati suasana Kopi Paginya. Dia begitu cepat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Tidak ada lagi perasaan canggung, malu dan minder bercengkerama dengan jajaran Direksi, Komisaris dan Pimpinan Unit Mitra Kerja. Apalagi dalam acara yang dikemas secara informal ini. Seolah ia sudah menjadi bagian dari mereka. Jajaran elit perusahaan.
”Penuhi jiwa ini dengan satu rindu…rindu untuk mendapatkan rahmat-Mu…meski tak layak ku harap debu Cinta-MU” ringtone HP Dina berbunyi….
”Maaf Pak,,,,,,,” Dina tak sanggup meneruskan kata-katanya untuk meminta ijin mengangkat Hpnya
”Silakan ..silakan….ini suasana santai kok” jawab salah seorang Direksi
”Permisi Pak”
”Meski begitu ku akan bersimpuh… Penuhi jiwa ini dengan satu rindu…rindu untuk mendapatkan rahmat-Mu….” ringtone itu terus berbunyi…
Ditempat yang agak jauh dari kerumunan orang Dina mengangkat Hpnya…
”Hallo….” sapanya
”Bu…kamu ada dimana sekarang….?” tanya suara disana dengan lembut
”Sedang bersama Direksi dan komisaris di kantor.. Yahas…” jawab Dina
Ohhh,…ternyata dari mas Darman, suaminya. Dina terbiasa memanggilnya Ayah, menyesuaikan diri dengan panggilan anak-anaknya
”Loch emangnya masuk… ?” tanya Mas Darman lagi
”Iyya Yah…”
”kapan pulangnya…Adit sakit di rumah kata si Mbok…”
”nanti siang…..atau mungkin juga sore…”
”Yaa sudah…biar Ayah saja yang pulang segera”
—oooOooo—
Pk. 15.30 Dina kembali kerumahnya. Sarapan Kopi Pagi di kafe Padang Golf ternyata diteruskan dengan acara ramah tamah dan meeting informal dengan Mitra Kerja dan Klien. Beberapa Kontrak Kerja ’deal’ setengah kamar dalam ramah tamah itu. Dina baru mengetahui kalau banyak ’deal’ ’deal’ kontrak kerja yang putus di Kafe, Padang Golf serta jamuan makan. Mungkin karena lebih santai dan informal….pikirnya, sehingga lebih mudah untuk bicara dari hati ke hati
Tiba di ujung jalan pemukiman, Dina melihat banyak orang berduyun menuju satu rumah dengan membawa nampan, rantang dan gelas-gelas kecil.
”Ada apa ini…?” tanya Dina dalam hati
Ada bendera kuning terikat di atas tiang listrik tepi jalan…
”Ohh ada yang meninggal….”
Dina mempercepat langkahnya. Ia juga ingin melayat. Ia tak ingin juga tertinggal dalam urusan sosial di lingkungannya….
Tak berapa lama Dina tersentak. Kakinya kaku tak bisa digerakkan….dia melihat banyak orang berkerumun dipekarangan rumahnya. Kebanyakan ibu-ibu dan wanita yang mengenakan pakaian berwarna gelap dan berkerudung. Bapak-bapak ada di ruang tengah…
”ohh…apakah…apakah…..”
”Tidaaaakkkkkkkkk”
Dina mencoba untuk berlari. Namun kakinya semakin sulit bergerak.
Air mata Dina deras mengalir ketiak ia melihat seorang bapak berpeci hitam dan berpakaian muslim putih sedang melantunkan ayat-ayat Qur’an. Dari suaranya tersendat terlihat jelas bahwa Bapak itu menahan tangis. Kadang sesegukan sesekali menghambat laju bacaan Qur’annya..
”Mas Darman…..Ayahhhhhh” seru Dina setengah berteriak
“Ayah siapa yang meninggal Yah….?” tanya Dina kepada Bapak yang sedang mengaji tadi
”Ayah..siapa yah….?” tanyanya lagi
Bapak tadi tidak menjawab. Telunjuk jarinya mengisyaratkan bahwa Dina bisa membuka kain kafan yang belum tertutup
Dengan sedikit merangkak, Dina berjalan tersendat, dan membuka kain kafan penutup wajah si mayit.
”Yaa Allah…Aadiiitttt” Dina langsung memeluk tubuh jenazah itu
”Maafkan Ibu Nak….maafkan Ibu nak…….” teriak Dina keras, membuat seisi rumah menoleh kepadanya. Bahkan beberapa orang yang berada di luar juga berlari kearah rumah
”Adddiiiiittttt….Sini nak…Ibu akan tiduri kamu…Ibu akan tidur bersamamu Nak…..”
”Addiiittttt bangun nak..Ibu sudah pulang…Ibu sudah pulang nak….”
”Ibu ingin tidur bersama mu….”
Dina meraung keras seperti anak kecil yang kehilangan orang tuanya….air matanya mengalir deras. Tak kuasa menahan sedih. Rasanya ingin sekali ia menggoyang-goyangkan tubuh kaku itu agar kembali bergerak….namun Mas Darman segera merangkulnya. Memeluknya. Dan mencium keningnya…
”Bu….ini salah kita..salah Ayah….Ayah terlalu sering meninggalkan keluarga..”
”Bukan Yah…ini salah Ibu…tadi pagi Adit minta ditemani tidur, tapi Ibu tolak…”
”Ya sudahlah…ini salah kita semua. Adit terkena paru-paru basah akut. Dan terlambat ditolong…..”
—oooOooo—
Anak, isteri, suami dan keluarga adalah perhiasan dunia. Perhiasan yang paling indah adalah istri yang sholeh (Amar’atush-Sholihah), suami yang adil (’imamun ’adilun) dan anak-anak yang mendoakan orang tuanya (awaladdun sholihin yad’ulah)
This entry was posted in

Jumat, 26 Agustus 2011

Kreatif juga Harus Tahu Waktu..


Aku punya adik laki-laki. Bisa dibilang dia anak yang kreatif dan punya banyak ide. Hampir setiap harinya, dia main di luar rumah, entah apa yang dilakukannya selama ia di luar. Namun, setiap pulang dari mainnya, dia selalu membawa barang yang aneh, seperti mainan rusak, atau mungkin sesuatu yang baru saja ia buat. Nah, itu dia yang aku bilang kreatif.

Kreatif sih kreatif, tapi nggak ingat waktu, apa coba? Masak setiap pulang main, lupa makan, lupa minum dan sampai lupa mandi. Huuuuaaah. Mau jadi kreatif tapi jangan lupain waktu juga kali. Apalagi dia anak yang Batu (Keras Kepala)..

Pernah beberapa kali, aku memergokinya. Ia sedang mencari mainan bekas yang sudah aku rapikan sebelumnya.

“Ngapain sih?”
“Nyari mainan bekas yang ada dynamo nya.”
“Buat apaan?”
“Liat aja nanti.”

Ya, saat itu aku bertanya padanya. Setelah mendapatkan mainan yang ia cari, ternyata ia langsung pergi ke luar, nggak tau mau ngapain.
Ketika pulang, bajunya kotor dengan oli. Apa sih yang dilakukannya? Huh. Semuanya kotor, tapi dia membawa mainan yang telah ia ambil sebelumnya.

Malamnya, aku belum tidur, mungkin karena kecapaian, adikku tidur terlebih dahulu. Aku penasaran, apa yang tadi ia lakukan? Sampai-sampai ketika sampai rumah, ia hanya sempat makan, mandi, lalu langsung tertidur.

Aku melihat mainan yang tadi telah ia ambil, sebuah Kipas angin kecil yang mudah dibawa-bawa, tahu kan? Itu punyaku, memang sudah rusak. Tahu tidak apa yang telah ia lakukan dengan kipas angin itu? Ia membuat sebuah kincir angin yang bisa berputar jika baterai dipasang. Waaaaaaw.

“Kincir angin?” Batinku.
“Waw.” Ucapku dalam Hati.
Dia kreatif sekali, aku aja yang sudah lebih mengerti dibandingnya, tidak kepikiran untuk bikin kayak gituan, haah.

Selain kreatif, dia anak yang banyak ide. Apa saja yang dilihatnya, bisa dia ubah jadi barang yang berguna lagi. Ia pernah membuat miniature dari kardus bekas, membuat kipas angin sendiri, membuat magnet dari sambungan kabel dan dynamo, dan masih banyak lagi.

            Buat anak anak yang merasa kreatif, aku percaya kalian memang kreatif, tapi harus tahu waktu, kalau waktunya belajar, belajar dulu, jangan main sendiri, ngobrol, bengong, ataupun gambar. Itu masih bisa dilakukan saat waktu luang. Jika begitu, aku bisa memdoakan kalian agar kalian jadi anak yang lebih kreatif lagi dan cita-cita kalian dikanbulkan oleh Allah SWT.

Semoga bermanfaat^^ 

Cinta ~


Wajar saja jika makhluk hidup seperti kita merasakan yang namanya “Jatuh Cinta”. Adakah yang saat ini merasakannya? Bagaimana perasaan kalian ketika sedang merasakannya?  Senang dan bahagia bukan? Hati terasa berkembang-kembang. Hahaha.

Benar lho seperti kata pepatah, ‘Kalau bilang Benci jadi Cinta, kalau bilang Cinta bisa jadi Benci’.. Aku pernah merasakan itu sebelumnya. Dulu, aku sering sekali mengejek temanku dengan ikhwan itu, entah mengapa sekarang jadi aku yang jatuh cinta, hahaha.

Hmm, masalah jatuh cinta sih, semua orang pernah kan jatuh cinta? Sebenarnya belum dibilang cinta, cuma sekedar suka sama orang itu saja, tapi rasanya ga beda jauh kok.
#Jangan Suka sama orang yang salah!

Akhwat sama ikhwan itu beda-beda. Misalkan ada yang penampilannya, wuiihh, alim. Tapi wataknya pemarah dan suka membantah, ahh, tidak menyenangkan bukan jika kita telah mengetahuinya?

Atau ikhwan yang terlihat alim dan bijaksana, tapi ternyata pikirannya selalu kearah yang negatif. Huh, nggak mau deh kalau udah tau kayak begitu.

Lebih baik kita hindari yang seperti itu, suka boleh aja sih sama orang yang kayak gitu, tapi, jangan sampai batas yang namanya CINTA, ehh, tapi sebaiknya diliat dulu mana orang-orang yang oke di luar dan oke di dalam. Hahaha.

Sebenarnya, pasti ada kata CEMAS yang selalu hadir saat memikirkan tentang cinta, akupun begitu. Cemas kenapa? Siapa tau yang kita cintai atau yang kita sukai, mereka punya watak yang berbeda dengan aslinya, didepan baik tapi dibelakang? Huh takut deh, tapi jangan juga sembarang menuduh orang J

Akhwat, hati-hati aja ya, sama yang namanya IKHWAN. Memang sih, kebanyakan ikhwan itu baik dan alim, tapi hati-hati aja, bukan sifatnya yang berbeda, tapi, dia bisa aja Cuma mainin hati kamu, sebenarnya dia udah jalin hubungan dengan orang lain dibelakang kamu, uhh, seandainya kita tau aja, sakiiiit banget rasanya. Hahaha. Hmm, kalau bisa cari Ikhwan yang dapat dipercaya dan JUJUR!

Ikhwan, AKHWAT juga ada lho yang kayak gitu, hm, tapi ga seperti ikhwan, kalau ikhwan, ada yang mempermainkan perasaan perempuan, kalau akhwat, biasanya tuh suka manis di depan, dan suka pahit dibelakangnya, tapi aku ga termasuk yang kayak gitu lho, jujur aja. Apalagi sama ikhwan, kalau udah diperhatiin sama ikhwan, pasti deh perasaanya manis manja di depan ikhwan, padalah di belakang, dia suka jahatin teman-taman akhwatnya. Hhhhuuuh, hati-hati juga ya ikhwan.

Cinta itu bisa diungkapkan, tapi tak harus menjalin hubungan tak pantas, seperti PACARAN. Dalam islam, itu dosa, walaupun sekedar lewat media massa atau alat komunikasi seperti handphone dengan menggunakan fasilitas sms atau telepon, itu sih sama aja. Jangan juga kebalik, ga pacaran tapi jalan bareng, wah itu sih, sama kayak pacaran. Kan intinya akhwat dan ikhwan itu belum muhrim untuk seperti itu, tapi kalau ada maksud yang jelas dan bermanfaat sih boleh-boleh saja..

Anak SD, SMP, SMA, udah anggap ini sebuah kebiasaan, apa itu baik? Nggak! Ngapain buang-buang waktu kayak gitu? Menurut yang sudah melakukannya, katanya sih seru dan menyenangkan, ahh, tapi berdosa, gimana tuhh?

Ingat apa yang Allah SWT sampaikan pada surat Al Ashr, kita ini orang-orang yang berada dalam kata RUGI, maka kita harus memakai waktu yang sebaik-baik mungkin, semoga yang bermanfaat.

“Ya Allah, Tuhanku yang maha Pengasih lagi maha Penyayang, ampunilah segala dosa-dosaku, dan dosa kedua orangtuaku serta teman-temanku, apabila kami telah melanggar aturanmu, mungkin kam sedang tak sadar atas apa yang Kau perintahkan. Kami Khilaf, Insya Allah kami tak akan mengulanginya. Ya Allah, sadarkanlah teman-teman kami sesama muslim, tunjukilah mereka ke dalam jalanmu yang lurus, jangan mereka tersesat dan terbawa pada ajaran yahudi. Apabila mereka melakukan sesuatu yang tidak pantas untuk dipercontoh, berikanlah mereka hidayah, berikanlah mereka contoh yang lebih baik, agar mereka sadar. Sesungguhnya engkau maha Mulia dan maha Pengampun.”

Aku tulis itu bukan sebuah pengalaman, tapi aku mendengar dari kabar yang pernah terdengar, yang  terlihat apa yang telah dipertontonkan, aku hanya berusaha mengajak kalian yang merasa seperti itu, untuk kembali mengikutikuti jalan Allah.
Semoga bermanfaat^^


This entry was posted in