Follow Us @nurnafisahh

@nurnafisahh

Minggu, 24 Juni 2018

Teman terbaik?

6/24/2018 01:56:00 PM 0 Comments

Guys, setuju atau engga ternyata temen itu menjadi beberapa persen faktor sikap dan perilaku diri kita sendiri. gatau sih, ini pemikiran gue doang atau ada yg pernah mikir kaya gini juga.
coba kita pikirin bareng bareng sebenernya temen itu siapa sih? seharusnya dia ngapain, seharusnya dia seperti apa, seharusnya dia bagaimana. gue rasa sekarang nyari temen yang bener bener temen itu susah, ada aja gitu temen yang nusuk dari belakang, temen yang cuma 'iyaiya' doang, temen yang cuma ada pas maunya doang, dsb. mungkin hal itu terjadi karena ada ketidaknyamanan dari mereka terhadap kita, yang sebenernya misalkan ga sreg sama kita karena sesuatu. itu balik lagi sama diri kita masing2 kan. kita juga kadang harus introspeksi diri, jangan egois cuma bisanya nyalahin org "kenapa dia gini, kenapa dia gitu".

Selasa, 29 Mei 2018

Ke mana Pertemanan Kita?

5/29/2018 12:03:00 AM 0 Comments

Kita dulu berteman, aku tau rasanya senyaman apa berteman dengan kamu. Kita saling bertegur sapa, saling terbuka, saling percaya, saling bercerita, bahkan berbagi cinta. Aku tau bagaimana kita memulai hubungan pertemanan kita. Dari suatu hal yang tak bisa kuceritakan, hingga cerita kita yang kini akan kuceritakan.

Saat itu, saat pertama kali aku mengenalmu, tidak ada sedikitpun rasa bahwa aku akan menjadi temanmu, teman dekatmu, bahkan lebih dari sekedar itu. Kamu memulainya lebih dulu, lalu kamu menemukanku. Awalnya aku tidak percaya diri, sebab saat itu sempat terjadi sebuah pernyataan tak mengenakkan. Ya, aku tidak bisa menerima kehadiranmu, intinya itu. Sejak itu, kurasa kita tak bisa lebih jauh lagi memanjangkan cerita. Namun, kamu tetap seolah tak pergi. Setiap aku butuh, kamu berusaha mendampingiku bahkan membantuku disaat kamu bisa. Kamu bahkan sama sekali tidak menjauh karena perbuatanku di masa lalu. Dan aku sangat menghargai itu.

Sejak saat itu, aku mulai menerima kamu. Aku percaya kita bisa saling membantu. Aku terbuka dengan kamu, begitupun sebaliknya. Ada saat dimana kita sibuk dengan dunia kita sendiri, tapi aku berusaha membangun suasana di tengah kesibukan itu. Tak jarang bahkan aku menanyakan perihal cinta padamu, sebab aku tau itu topik yang dapat memulai kita bercengkrama lagi. Jujur, aku sempat cemburu.

Bagaimana tidak, seorang yang sudah aku anggap sahabat kini mulai menjauh dan punya teman baru. Yang ku takutkan adalah kamu perlahan pergi dan meninggalkan aku. Aku tak mau itu terjadi. Aku tak mau cinta merusak hubungan kita. Aku mau mendengar cerita kamu dengan siapapun, walaupun bukan tentang aku (lagi). Asalkan kita bisa terus menyapa walau hanya sekedar pesan singkat.

Namun yang kutakutkan akhirnya terjadi. Setelah sekian lama kamu pergi dan tak kembali, seolah kini kamu yang menjauh dan meninggalkan aku. Mungkin, aku sudah tampak membosankan. Aku sadar itu, aku juga sadar kamu pasti punya teman baru yang lebih daripada aku. Ketika aku berusaha memberikanmu selamat atas kelulusanmu, kamu hanya menjawab dengan singkat. Hancur, kecewa, dan rasanya ingin menangis. Kedekatan yang sudah kita bangun selama lebih kurang 6 tahun ini rasanya tidak ada artinya lagi. Aku sudah tak lagi berarti untukmu, bahkan untuk menjawab pesan singkatku saja kamu seakan tidak mau. Lalu, aku berusaha mengajakmu bicara, sebenarnya ada apa?

Beberapa hari kemudian, telponku berbunyi, ternyata kamu mengajakku bicara setelah sekian lama. Senang, tapi aku juga tampak ragu. Lalu kuangkat telponmu dengan nada nada sayu. Gemetar hatiku, maklum, aku jarang-jarang menerima telepon, apalagi dari kamu, teman lamaku. Aku malu menjawabnya. Tapi aku berusaha untuk biasa saja. Lalu kamu menjelaskan alasanmu mengapa akhir-akhir ini berubah.

Nyatanya, cinta yang telah membuat kamu berubah. Cinta yang membuat kamu menutup diri kepada oranglain, apalagi aku teman baikmu. Maaf jika aku belum bisa menjadi sahabat yang baik untuk kamu, sampai akhirnya kita menjadi seperti ini. Maaf jika aku berlebihan, aku hanya tak ingin kita jauh seperti ini. Maafkan aku yang tak bisa banyak bicara lewat telepon. Maafkan aku yang hanya bisa mengucapkan "gapapa" saat kamu meminta maaf. Ya, aku gapapa. Tapi hati aku kenapa-napa. Ketika kamu mengungkapkan hal itu, rasanya sangat ingin menangis. Tapi aku berusaha membangun tawa, menutupi  apa yang seharusnya aku luapkan. Aku  tak mau kamu kecewa. Lagi lagi aku cemburu, kini kamu sudah punya tambatan hati yang tak bisa kamu khianati. Kamu pasti lebih memilih untuk menjaga hatinya, bukan hatiku lagi. Kamu jelas lebih mementingkannya, bukan diriku lagi.

"Maaf aku sudah merusak hubungan baik kita," katamu padaku malam ini. Ya, aku berusaha terima. Aku percaya kamu sudah dewasa, kamu bisa menilai sendiri mana yang baik dan mana yang buruk untuk kamu. Aku tak bisa paksakan lagi. Aku tak bisa lagi mengemis perhatianmu untuk aku (lagi). Aku tak bisa mengucapkan ucapan konyol2 kita seperti dulu lagi. Aku bahkan menjadi segan untuk menceritakan kisahku kepadamu lagi. Bukan apa-apa, karena aku juga harus tau diri:) kini hatimu sudah terbagi, bukan hanya untukku, bahkan mungkin tidak untukku lagi. Mungkin saat ini aku hanya sosok yang terbesit dipikiranmu kemudian pergi, selebihnya sudah diisi dengan cintamu saat ini. Aku tau, aku harus ikhlas. Pertemanan kita yang selama ini harus sedikit hempas. Kenyamanan ini semakin lama berkurang. Hanya mata yang berkaca-kaca menjadi saksi atas persahabatan kita.

Terima kasih, karena kamu masih mau berbagi. Walau yang kamu bagi malam ini tidaklah sama seperti dulu lagi, tapi tak apa. Setidaknya kamu masih mau berhubungan dengan aku lagi. Aku selalu berdoa, semoga kamu bahagia dengannya. Terima kasih sudah mau menjadi teman yang sangat baik, teman yang selalu ada untuk aku, teman yang selalu setia, terbuka, bisa dianggap adik, dan bisa dianggap kakak, dan pokoknya makasih untuk semuanya. Kamu boleh jatuh cinta, tapi kumohon jangan lupakan kisah-kisah kita. Walau kini kau tampak berbeda, sedikit menjauh dan membuat aku sedikit kecewa. Tapi tak apa, aku akan selalu berusaha ada untuk kamu ketika kamu butuh. 

Tapi setelah itu, ke mana alur pertemanan kita?

Jumat, 18 Mei 2018

Dear, Rahayu Bulan Suci

5/18/2018 09:11:00 PM 0 Comments



 


Assalamu'alaykum, sahabat blogger. Sudah lama rasanya tidak mengetik di blog ini. Ada beberapa orang yang sering juga menanyakan kenapa jarang ngepost lagi hehe. Sebelumnya aku mohon maaf ya karena ada beberapa hal yang tidak bisa ditinggalkan dan pastinya lebih penting sih hehe. Jadi, sebenarnya aku sedang ada project juga untuk membuat blog/website dalam rangka UAS Praktik  fotografi, jadi harus diselesaikan segera dalam waktu 4 bulan ke belakang ini. Mohon maaf semua hehe.

Jumat, 13 April 2018

Introvert yang tak berdaya • 13 April 2018

4/13/2018 04:45:00 PM 0 Comments

Sebenarnya, diri kita sendiri yang tau sejauh mana batas kemampuan dan kesanggupan kita.
Tapi nyatanya, terkadang kita memaksakan diri dan bertindak seolah mampu.
Kita tau kekurangan kita,
Kita tau kelebihan kita,
Kita tau apa yang baik dan buruk untuk kita sendiri.
.
Suatu ketika, ada seorang anak introvert yang larut dalam kebimbangannya.
Hatinya gundah, resah, dan berseduh  karena terlalu memaksakan diri untuk  tenggelam dalam kesibukan. Introvert itu berjalan menyusuri jejak kaki yang sudah terpampang,
Ia menginjak jejak yang sama agar tak salah jalan. Namun tampaknya ukuran jejak itu berbeda dengan kakinya.
.
Introvert itu merasa tak berdaya, setiap pijakan yang dihentaknya tak sesuai dengan dirinya.
Sementara itu, tak ada jalan lain selain membuat pijakan yang baru, dan tentu pada jalan yang lain pula, yang sesuai dengan dirinya, yang dapat memuaskan hatinya, dan bisa tercapai pula tujuannya.
.
Mungkin jalan kita sama, tujuan kita sama, dan harapan kita sama. Tetapi ini bukan jalan yang si introvert cari, lalu introvert itu berusaha mengasingkan diri mencari jalannya sendiri.

Jumat, 16 Maret 2018

Membaca: Ide untuk Menulis?

3/16/2018 09:39:00 PM 0 Comments

Tak jarang mereka yang suka menulis saling bertanya, "buku apa yang kamu suka?", Kemudian jawabannya beragam. Itulah pertanyaan yang sangat sering kuderngar dari mereka ketika mengetahui aku suka menulis.

Sewajarnya, orang yang suka menulis pasti dia sangat gemar membaca. Jangankan membaca novel sebanyak-banyaknya, menghabiskan novel satu hari saja mungkin mereka bisa. Dari situlah mungkin mereka mendapatkan banyak informasi, inspirasi, dan evaluasi dari setiap buku yang mereka baca. Dari membaca, mereka bisa membuat tulisan yang jauh lebih baik, mengetahui kaidah menulis yang baik, mengembangkan ide juga dengan sangat baik.

Tapi entah mengapa, aku paling tidak suka dengan pertanyaan tadi. Ya, "buku apa yang paling kamu suka?" Mungkin setiap yang bertanya akan mendapatkan jawaban yang berbeda dari mulutku. Haha, ya, sejujurnya aku kurang suka membaca. Kenapa?

Aku juga tidak tau alasannya. Genre buku pun aku tidak tau, jadi wajar saja jika ada yang bertanya "genre apa yang kamu suka?" Kemudian aku hanya akan tersenyum dan diam. Hehe. Begitu pula dengan "siapa penulis yang kamu suka?", Kamu akan tau sendiri jawabannya.

Aku tidak mengerti, mengapa cita-citaku menjadi seorang penulis, sedangkan membaca saja aku tidak hobi. Setiap membaca buku, pasti tidak tamat, kecuali buku-buku yang sifatnya ringan dan halamannya pun tak banyak. Ah, payah sekali. Penulis macam apa ini haha.

Lalu, dari mana aku mendapatkan ide dan inspirasi untuk menulis? Sedangkan biasanya oranglain bisa mendapat ide dari membaca. Jujur, aku lebih suka mengisahkan apa yang aku lihat, apa yang aku dengar, apa yang aku raba, apa yang aku cium, dan apa yang aku rasakan. Aku lebih suka bercerita dan mendengarkan cerita, terlebih cerita itu dari diriku sendiri. Aku tidak suka gaya bahasa yang terlalu tinggi, karena aku mau tulisanku dibaca oleh semua kalangan. Aku juga tidak suka gaya bahasa yang formal, sebab diantara mereka pasti ada yang tidak menyukainya. Aku lebih suka berbagi dengan caraku sendiri, dengan bahasaku sendiri, dengan apa yang ada dari oranglain dan diriku sendiri.

Tapi aku masih peduli tentang tata bahasa, irama, ide gila, dan rasa. Yang penting setiap cerita yang kutulis bisa menyenangkan bagi oranglain. Jadi, jangan menantangku dengan "kapan bikin cerpen?", "coba bikin esai", "coba bikin novel aja caa". Haha, gak semudah itu. Sebab fiksi bukan ranahku. Tapi nanti mungkin dicoba. Hehe.

Jadi, bagaimana cara agar bisa suka membaca? Ajari aku.

Minggu, 11 Maret 2018

Creative Writing

3/11/2018 07:40:00 PM 0 Comments

Ada yang bilang, membaca adalah cara kita untuk lebih mengenal dunia. Kalau begitu, menulis adalah cara dunia mengenal kita. Nah, untuk dikenal dunia lebih luas lagi, pastinya sebagai penulis kita harus menyajikan tulisan yang bermanfaat, entah itu untuk metode pengajaran, memberikan informasi, atau sekedar menghibur oranglain. Maka dari itu, kita sebagai penulis dituntut untuk menuangkan ide kreatifnya sehingga bisa membuat pembaca berimajinasi melalui tulisan yang kita buat.

Senin, 19 Februari 2018

Hujan Kamis Manis (2)

2/19/2018 07:51:00 AM 0 Comments

Gadis itu kembali pada tugasnya. Sementara manusia yang tadinya duduk bersamanya kini hilang setelah pamit karena tugasnya juga. Gadis itu kini sendiri, lalu dia kehujanan lagi tapi berbeda nasibnya dengan yang tadi. Tak ada yang melindungi, tak ada yang menghampiri.
Setelah lelah bekerja seharian, gadis itu lupa akan kewajibannya sebagai hamba. Ya, beribadah. Sudah menjelang maghrib tapi ia belum juga shalat ashar. Bergegaslah gadis itu menuju masjid terdekat bersama salah seorang temannya.

Sabtu, 17 Februari 2018

Hujan Kamis Manis (1)

2/17/2018 09:10:00 AM 0 Comments

Hujan yang tiada berhenti saat itu menghantam rerumputan kota. Tetesan air itu terus saja berbunyi di permukaan payung yang berada diatas kepalanya. Entah seberapa lama dia menunggu hujan itu reda, namun nyatanya ia semakin deras.
Tiba tiba sesesok manusia datang menghampiri. Menawarkan pertolongannya untuk meringankan beban dia, seorang gadis kecil itu. Nyatanya gadis itu memang tidak bisa bergerak sendiri, lalu gadis itu meng-iya-kan tawarannya.