Kamis, 09 Februari 2017

Belajar Mengikhlaskan

Belajar mengikhlaskan itu tidak mudah. Kebiasanku mencari tauu tentangnya kini tak bisa aku lanjutkan. Sudah terlalu jauh rasanya aku memendam perasaan ini. Sudah seharusnya aku mundur dan menjauh dari cinta yang tak seharusnya ku simpan dalam hati. Mudah memang mengatakan itu, tapi sulitnya saat berusaha untuk dilakukan.

Mungkin Allah mengingatkanku akan sejatinya cinta Allah dan hanya itulah cinta yg abadi. Bukan mencari cinta yang lain lalu berusaha mencari kebenaran didalamnya. Aku percaya akan ada cinta yang datang melengkapi setengah imanku dan melengkapi setengah cintaku kepada-Nya.

Melihatmu dari kejauhan kini menjadi hobi yang harus aku hapuskan. Tidak ada lagi senyum ketika melihatmu, tidak ada degup jantung yang aneh ketika tanpa sengaja kau memberikan sedikit lengkung senyummu, dan tidak ada lagi bayang-bayangmu yang muncul disetiap aku menutup mataku. Tak sepatutnya aku merasakan itu. Lagi lagi aku sudah terlalu jauh.

Kalaupun langkah ini menjadi langkah akhir kita bersama, izinkan aku untuk selalu mendoakanmu untuk segala kebaikan yang akan datang kedepannya. Jangan pernah menganggapku masa lalu mu karena aku tidak pernah ada dimasa lalumu. Jangan berhenti berharap datangnya bidadari syurga suatu saat nanti yang akan menyempurnakan kekuranganmu. Aku tidak bisa berharap itu aku, karena aku hanya seutas nama yang mengharapmu berlebihan dan harus segera membuang perasaan itu.

YaAllah, jikalau selama ini aku salah, berilah aku ampunanmu dan tunjukkan jalan yang benar daripada ini. Jikalau aku salah mencintai orang, berilah aku kekuatan untuk mengikhlaskannya dan hindari aku dari orang yang tidak Kau tuliskan untukku. Aku hanya ingin mencintainya, yaitu orang yang kau ridhoi. Tak ada yang salah dari sebuah pengampunan bukan? Aku hanya sisipkan sedikit harapan yang teramat ku harap. Karena hanya kepada-Mu sepantasnya aku berharap.

Selasa, 07 Februari 2017

Kenangan Masa Kecil

Aku teringat ketika masih kecil. saat aku masih duduk dibangku kelas 3 SD. Aku suka sekali bermain peran menjadi guru. Maklum, saat itu aku dan Arkan adalah orang yang paling tua diantara teman mainku yang lain. Yap, merek semua masih kecil. Kelas 2, Kelas 1, TK, atau bahkan baru 4 tahun😂

Aku teringat ketika aku menjadi ibu guru dan Arkan menjadi bapak guru. Saat itu, mereka yang ingin belajar wajib membayar kami 500 rupiah. setelah uang terkumpul, aku belikan makanan ringan kemudian dimakan bersama setelah belajar. Kami bermain sambil belajar menghitung. Belajar menghitung dengan sempoa, menggambar dan mewarnai, lalu main ular naga panjang. Alahkah indahnya jika masa kecil kembali diulang. Mungkin kita dapat menemukan senyuman dan tawa yang murni dari wajah wajah yang belum berdosa.

Sejak saat itu, aku bercita-cita menjadi guru. Aku  pikir menjadi guru itu menyenangkan. Membuat orang yang tidak mengenal sesuatu menjadi kenal.  Membuat orang yang sedih untuk kembali bahagia. Pengorbanannya besar, namun imbalan pahalanya pun tidak ada hentinya. Senangnya saat itu menjadi guru walau hanya sesaat. Dan aku semenjak itu, aku suka anak kecil.

Anak kecil itu menggemaskan. Sampai suatu saat banyak tetangga yang menitipkan anaknya pada ku saat aku masih kelas 5 SD. Haha, pengalaman yang tidak terlupakan. Aku jadi belajar memandikan bayi, membuat makanan bayi, menggendong bayi, ahhhh senang sekali masa masa itu. Rindu rasanya.

Aku teramat bersyukur tentang hidup yang aku pikir ternyata indah banget ya. Allah bener bener mengajarkanku lewat masa lalu dan waktu yang sudah pernah aku lewati sebelumnya. Setiap manusia pasti jalannya beda. Dan Allah kasih aku jalan seperti ini membuat aku termotivasi dengan adanya dorongan dari masa lalu. Alhamdulillah. Terima kasih yaAllah. Senangnya mengenang masa kecil ketika belum mengenal dunia yang kejam ini.

This entry was posted in ,

Sabtu, 28 Januari 2017

Sabtu, 07 Januari 2017

Berhenti Menyakiti atau Mulai Mencintai


Kenapa terkadang orang bilang cinta itu kejam.
Cinta itu menyakitkan,
atau bahkan cinta itu hanya sebuah permainan.
Sebenarnya, cinta tidak pernah mempermainkan,
karena sejatinya kitalah yang salah menmpatkan cinta itu berada
Ya, seperti dia yang salah ketika menaruh hatinya kepadaku

Seharusnya kamu perlu tau,
Aku bukan alas kaki yang kamu bilang "welcome" tapi cuma untuk kamu injak injak
Aku bukan permen karet yang kamu ambil manisnya kemudian kamu buang
Aku bukan kertas putih yang kamu gambar penuh warna terus kamu robek gitu aja
Dan hati aku bukan tameng yang bisa menolak peluru rasa sakit

Seharusnya kamu tau,
bagaimana kamu harus memperlakukan orang yang kamu cintai
bagaimana kamu harus rela berkorban untuknya
walau kamu tau seberapa besar resiko jika kamu melakukannya

Tetapi kamu juga perlu tau,
kamu boleh melakukakn itu namun setelah kamu siap menghalalkan aku
tetapi, maukah kamu belajar untuk berjanji?
setelah hati menjadi utuh, tolong jangan patahkan lagi
kita belajar sama sama menata masa depan dengan cerah
kita belajar untuk dewasa menyelesaikan masalah
bukan untuk aku atau kamu,
tapi untuk kita.

Aku bersyukur apalabila kamu bisa melakukannya,
berhenti mendzolimi aku lalu berusaha berubah dan menghalalkan aku
itulah namanya lelaki sejati yang aku mau
yang rela bertanggung jawab dan hijrah tanpa ragu
ketahuilah Allah menyukai orang yang bertaubat selagi mau,
aku juga tak pernah menutup hati kepada siapa yang siap berubah demi cinta.
cinta kepada aku dan cinta kepada Allah.

Apa kamu siap berhenti menyakitiku dan mulai mencintaiku?

Sabtu, 31 Desember 2016

Apakah..

Hai kamu,
yang kini aku tidak tau kamu sedang apa
yang kini aku tidak tau kamu dimana
ini aku,
orang yang selalu mencintaimu dalam diamku.

apakah kamu menikmati liburan ini?
tentu saja, engkau pasti bersenang-senang
engkau pasti bahagia dengan waktu luangmu
engkau pasti selalu bahagia dengan senyum manis di wajahmu itu, hehe

apakah kamu tau,
sepanjang apapaun liburanku kali ini,
tetap saja kamu yang selalu aku ingat
tetap saja kamu yang membuat liburanku menyenangkan
walaupun hanya terbenak dalam fikiran..

apakah kamu tau,
disini aku selalu merefresh ponselku hanya untuk melihat kamu
disini aku hanya bisa membuka media sosialmu walaupun tidak ada pemberitahuan
disini aku hanya bisa mengupdate statusku bahwa aku merindukanmu
walaupun begitu,
taukah kamu bahwa aku senang melakukan itu? hemm, mungkin kau tak pernah tau

apakah kamu tau,
do'a disetiap akhir sujudku bukan hanya untuk aku dan keluargaku,
bukan hanya untuk mengharap ridho-Nya untuk kematianku,
tapi juga kuselipkan namamu untuk hal itu.
dan berharap suatu hari nanti kita akan bersama
melantunkan doa diakhir sujud kita,
diruang yang sama, diwaktu yang sama,
dan ketika kau mengamini do'amu,
lalu aku ikut mengamininya..
apakah kau tau,
aku selalu berharap akan hal itu.

apakah kau tau,
aku hanya bisa menulis kerinduanku pada setiap bait puisi ini untukmu
walaupun aku tidak pernah tau,
apakah kau membaca postingan ini atau tidak
yang jelas, aku yakin jikalau rindu ini kuterus kirimkan kepadamu lewat do'a,
kau pasti akan merasakan hal itu.
aku tau kekuatan do'a seperti yang kau bilang kepada semua orang,
dan aku percaya do'a adalah senjata yang aman dan ampuh untuk menyampaikan perasaan kita.

apakah kau tau,
aku menyukaimu lebih dalam daripada kamu mencintainya saat itu.
walau kini aku tidak tau apakah perasaan itu masih sama,
kau mencintainya dengan setulus hatimu,
tapi yakinlah disini akupun punya cinta,
bahkan lebih daripada cinta dia kepada kamu.

apakah kau tau,
selama ini aku menahan kesakitan ketika aku melihat dia denganmu
aku tau aku tidak punya hak untuk marah
maka dari itu aku hanya bisa bersabar
aku hanya bisa berharap dan keridhoan,
dan alhasil, sampai sekarang aku masih teguh dalam pendirianku,
yaitu mencintaimu dengan setulus hatiku.