Follow Us @nurnafisahh

@nurnafisahh

Minggu, 16 Desember 2018

Berseri #Episode 4

12/16/2018 11:05:00 AM 0 Comments

Jam istirahat berbunyi, Gio dan Nufail hendak pergi ke kantin. Tetapi Nufail meminta waktu Gio untuk menunggunya sebentar. Nufail harus melihat simpanan uangnya untuk hari ini, ia baru akan mendapat uang setelah menjual hasil kebun ke pasar dan itu baru akan dilaksanakan besok sore. Gio yang sudah mengetahui keadaan Nufail tak jarang membantunya dalam hal ekonomi. Secara, Gio ini anak satu-satunya dari keluarga yang lebih dari berkecukupan.

"Fail, sudahlah pakai uangku dulu, nanti kamu bisa ganti kapan aja," kata Gio menawarkan diri.
"Tidak, sudah terlalu banyak aku memakai uangmu, Gi," tolaknya.
"Ah, tapi pada akhirnya kamu mengganti uangku 'kan?" kata Gio. "Sudahlah, perutmu ini lebih penting daripada gengsimu, ayo kita makan! Aku sudah lapar," kata Gio.

Muhammad Gio Muayyad, salah satu teman dekat Nufail yang hingga saat ini masih setia menemani Nufail. Gio terlahir sebagai anak semata wayang, kehidupannya selalu dicukupi oleh Allah bahkan selalu berlebih. Namun, dengan keadaannya itu Gio tidak menjadi anak yang angkuh. Ia tetap rendah hati dan suka membantu orang lain.

"Bentar ya, Nufail. Aku pesan makanan dulu, kamu duduk saja di sana," kata Gio sesampainya di kantin.
"Baiklah," kata Nufail.

Nufail yang menunggu Gio sambil membaca buku itu tiba-tiba dihampiri oleh seorang wanita.

"Kamu penikmat buku-bukunya Barli Arbani?" tanya perempuan itu.
"Eh.. Iya, bagaimana kamu tau?" tanya Nufail yang sedikit terkejut.
"Ini, pembatas bukumu jatuh," kata perempuan itu sambil memberikan pembatas buku.
"Terima kasih ya," kata Nufail yang mulai gugup.
"Sama-sama," kata perempuan itu sambil tersenyum malu.

Tiba-tiba, Gio datang menghampiri meja makan.

"Hei, Zaina. Kamu sudah kenal dengan Nufail?" tanya Gio.
"Hei, Gi. Belum, aku hanya memberikan pembatas bukunya yang jatuh," kata Zaina.
"Jadi, namamu Zaina?" kata Nufail.
"Iya, perkenalkan. Aku Zaina Faizah Syahlaa, kamu bisa panggil aku Zaina," kata Zaina memperkenalkan diri.
"Baiklah, Zaina. Aku Nufail," jawab Nufail yang juga memperkenalkan diri.
"Apa kamu ingin makan bersama kami,  Zain?" tanya Gio.
"Ohh, tidak, terima kasih. Aku tidak terbiasa makan bersama laki-laki, maaf ya," kata Zaina yang malu-malu.
"Baiklah, aku tahu itu sejak dulu, aku hanya basa-basi, hahaha," kata Gio sambil tertawa kecil.
"Dasar kamu, Gio. Yasudah, aku pergi dulu ya, Assalamu'alaikum," kata Zaina berpamitan kepada Gio dan Nufail.
"Wa'alaykumussalam," jawab Gio dan Nufail.

Melihat percakapan Gio dan Zaina, Nufail sesekali memperhatikan sambil membaca buku. Ditolehnya buku berjudul Daun karya Barli Arbani itu dan sesekali melihat wajah Zaina dan Gio. Seketika Nufail terbenak dalam pikirannya, "Sepertinya aku pernah melihat wanita tadi, di mana ya?" tanyanya pada diri sendiri.

"Fail! Kok kamu melamun?" tanya Gio mengagetkan.
"Bentar deh, sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana ya, Gi?" tanya Nufail sambil berpikir.
"Kamu ini bagaimana? Dia itu yang tadi pagi kamu senyumin, tapi dia tidak senyum balik padamu," kata Gio.
"Ah.... Iya! Wanita itu... jadi Zaina," kata Nufail.
"Iya, dia penikmat buku Barli Arbani juga loh, sama sepertimu," kata Gio.
"Ah, masih banyak penggemar-penggemar Barli selain kami berdua," kata Nufail.
"Iya iya, baiklah," kata Gio yang sudah lelah menggoda Nufail.

Makanan yang dipesan pun datang. Gio dan Nufail makan dengan lahap sebelum kembali belajar di kelas.

-----

Selesainya kuliah, Nufail teringat janjinya bertemu Rayyan di toko. Dia harus datang sebelum jam 4 sore. Sebab, kalau pulang terlalu malam Nufail khawatir dengan Uma yang sendirian di rumah. Bergegaslah Nufail pergi ke toko milik Rayyan.

Sesampainya di sana, terlihat Rayyan berada di depan toko sambil berbincang dengan pegawainya. Ya, toko bunga. Ternyata, toko yang dititipkan kepada Nufail adalah toko bunga. Jangan salah, toko bunga milik Rayyan ini sudah terkenal dan paling ramai dikunjungi, apalagi menjelang hari-hari besar, liburan, atau musim wisuda.

"Assalamu'alaikum, bang," sapa Nufail kepada Rayyan.
"Wa'alaikumussalam, tepat waktu sekali kamu. Hebat-hebat.." kata Rayyan.
"Ah, hanya kurang 10 menit saja menuju jam 4 bang," kata Nufail.
"Manajemen waktu yang baik, haha, mari kita masuk," ajak Rayyan.

Di dalam toko, aroma bunga-bunga begitu menyengat ke hidung setiap tamunya. Bagi pecinta bunga dan tanaman, mungkin tempat ini menjadi salah satu tempat favorit. Ternyata tidak hanya bunga-bunga terpampang di kanan dan kiri toko, tapi di pojok ruangan juga disertai rak-rak buku.

"Kalau boleh tau, kenapa di sini ada rak buku juga, Bang?" tanya Nufail penasaran.
"Aku ini pecinta buku, aku ingin menularkan kecintaanku terhadap buku kepada orang-orang yang datang ke tokoku," kata Rayyan.
"Memang, seberapa minat mereka baca buku di sini, Bang?" tanya Nufail.
"Wah, minat sekali. Coba deh kamu rasakan sensasi membaca di tengah-tengah bunga, imajinasimu akan lebih terasa," kata Rayyan.
"Masa sih, Bang?" tanya Nufail yang masih penasaran.
"Iya, adikku bilang, menghirup aroma bunga bisa membuat kita lebih berkonsentrasi, dan pereda stress juga katanya," jelas Rayyan.
"Wah, menarik sekali bang. Toko yang keren," kata Nufail.
"Aamiin, semoga saja haha," kata Rayyan.

Setelah itu, Rayyan menjelaskan mekanismenya dalam bekerja. Hal ini sebagai modal untuk Nufail ketika nanti harus menjaga toko ini selagi Rayyan pergi ke negeri Kebab. Setelah mendengar penjelasan Rayyan, Nufail merasa sangat tertarik untuk bisa bekerja di sini. Semua fasilitas memadai, dan Nufail sangat suka. Terlebih ada buku-buku yang akan menemaninya selama bekerja.

"Baiklah kalau begitu, lusa kamu sudah bisa bekerja. Selama kuliah, aku punya orang lain untuk menjaga toko ini. Aku mempercayaimu untuk mengontrol segala halnya, tapi kamu boleh kok datang sepulang kuliah sebentar lalu pulang, tak perlu setiap saat di toko," kata Rayyan.
"Baik, bang. Terima kasih atas kepercayaanmu, Bang," kata Nufail.
"Tentu, ingatlah surat An-Nisaa' ayat 58, kamu pasti paham 'kan?" kata Rayyan mengingatkannya.
"Insya Allah, ayahku selalu mengingatkan banyak hal, termasuk amanah, Bang," kata Nufail.

Allah SWT berfirman tentang Amanah di QS. An Nisaa' ayat 58 :

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Setelah itu, Nufail pamit untuk pulang ke rumah. Diingatnya pesan-pesan sang ayah yang ternyata tidak sia-sia. Semua yang ayahnya katakan semasa hidupnya kini terwujud pada kehidupan Nufail dan Uma. Nufail sangat bersyukur bisa mendapatkan banyak pelajaran dari ayahnya.

Lalu, Nufail sampai di rumah. 

"Assalamu'alaikum, Uma..." salam Nufail sambil membuka pintu.
"Wa'alaikumussalam, sholih..." jawab Uma.
"Uma, aku ingin cerita banyak hal tentang hari ini," kata Nufail sambil tersenyum.
"Uma siap mendengarkan, nak. Tapi sekarang kamu bersih-bersih dulu, lalu kita makan malam. Nanti setelah itu baru kita cerita," kata Uma.
"Iya, Uma," kata Nufail.

Setelah itu, Nufail membersihkan diri, sementara Uma menyiapkan makan malam.

------------------

Tunggu kelanjutan cerita Ber-Seri nya ya!

Rabu, 12 Desember 2018

Untuk Yang Membuatku Kecewa

12/12/2018 11:51:00 PM 0 Comments

Belakangan ini, aku sedang dirundung rasa bersalah dan kesal yang berlebihan. Sebab, baru saja aku mendengar kabar tentang salah satu temanku, teman yang cukup berpengaruh dalam keseharianku. Teman yang tidak pernah kupikirkan sama sekali punya sifat yang kurang baik.

Aku ini orangnya mudah sekali kagum pada oranglain, tidak memandang dia laki-laki atau perempuan. Mungkin yang membuatku kagum pada mereka semua adalah sifat dan sikap yang selama ini aku ketahui secara langsung atau bahkan tahu banyak hal dari orang lain.

Jadi ceritanya gini, aku ini salah seorang pengagum temanku sendiri. Dia adalah perempuan yang dulu pernah menjadi teman sepermabaanku. Aku kagum padanya karena parasnya yang cantik, menurutku wajahnya tidak membosankan untuk dipandang. Dia juga seringkali menggunakan gaya hijab yang menarik, lucu, pokoknya aku suka. Setelah aku kenal dekat dengannya, ternyata orangnya pun baik hati dan tidak sombong. Sangat mendukung penampilannya.

Namun, suatu ketika ada kabar yang menyebutkan bahwa ia dekat dengan seseorang. Pikiranku saat itu masih baik, aku masih berusaha untuk husnudzon. Ahh mungkin saja hanya sekadar teman dekat seperti aku dekat dengan teman kelasku. Banyak orang yang ikut mengiyakan kabar tersebut, terlebih laki-laki yang dikabarkan dekat dengan temanku ini adalah teman sekampungnya, anggaplah begitu.

Karena penasaran, aku mencari tau bagaimana kebenaran berita tersebut. Awalnya aku pikir untuk apa juga mencari tau, tapi aku hanyalah seorang perempuan yang selalu ingin tahu, apalagi menyangkut orang yang aku kagumi, sebab aku hanya tak ingin mengagumi seseorang yang akhlak nya tidak baik, apalagi di mata Allah. Sesimpel itu.

Seiring berjalannya waktu, Allah mempertemukan aku dan mengenalkan aku kepada lelaki itu, yaaps, lelaki yang dikabarkan dekat dengan temanku yang cantik itu. Kemudian, semakin lama kami semakin sering bertemu karena suatu tugas dan keharusan. Aku jadi lebih tau karakter, sifat, dan sikap lelaki itu, anggaplah dia kini sebagai teman baruku.

Lelaki ini sangat berwibawa, mandiri, bahkan pemikirannya sangat dewasa. Aku pun kagum sebenarnya dengan lelaki ini, sebab ternyata lelaki ini begitu baik dan bisa mengorganisasikan dirinya. Oiya, tolong bedakan ya perasaan suka dan kagum. Hehe.

Aku bahkan pernah menanyakan apa benar kedekatan itu sedang terjadi antara mereka kedua. Kemudian, lelaki itu menjawab  "Tidak". Mungkin dari situ aku terlalu mudah percaya dengan kata-katanya, sehingga aku tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Awalnya tak ada salahnya jika aku mengagumi mereka berdua. Bahkan kukira mereka cocok, banyak kesamaan yang ada pada diri mereka. Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini aku begitu kecewa ketika mendengar kabar mereka ternyata jauh dari yang kuduga. Ada seseorang yang bilang, kemarin mereka tampak mesra berdua. Mesranya tuh begini........ah sudahlah, kasihan, itu adalah aib. Sayang sekali. Aku kembali kecewa.

Aku ini paling tidak suka ketika ekspektasi tidak sesuai dengan realita. Itulah mengapa, mungkin ini salah satu alasan mengapa aku ini orangnya sangat mudah kecewa, aku terlalu sering melibatkan hati dalam segala hal, sehingga apabila tidak sesuai realita maka hati akan sakit berkepanjangan.

Ah, mengapa kalian seperti ini?
Padahal kukira aku tidak mengagumi orang yang salah. Kemana sikap baik, bijaksana, tau agama, saling menjaga, dari kalian berdua? Padahal, aku adalah salah satu orang yang sering menerima nasihat, masukan, dan pelajaran dari salah satu mereka. Tapi, ahhh sudahlah.

Biarkan hatiku sembuh terlebih dahulu. Silakan lanjutkan bersenda guraunya dengan dunia. Aku cuma mau ngingetin kalau aku gak suka dibohongin :) Oiya satu lagi, semoga kita bisa hijrah sama sama lagi, memperbaiki akhlak sama sama lagi, saling berbagi cerita lagi, yaa semoga aja, suatu saat nanti.

Semangat mengemban amanah,
Semoga tetap bisa bekerja dengan baik, atau bahkan bisa lebih baik karena setiap hari pasti ada yang ngingetin.. hehe. Aamiin.

Selasa, 11 Desember 2018

Nikah Muda, Siapkah?

12/11/2018 03:58:00 PM 0 Comments

Nikah muda, mungkin menjadi impian bagi beberapa orang. Ada yang bilang, nikah muda itu banyak keuntungannya, seperti terhindar dari fitnah, waktu untuk beribadah lebih panjang, atau sekadar ingin kelihatan muda kalau nanti punya anak. Haha. Masih banyak keuntungan lain ketika kita memilih nikah muda, balik lagi sama pendapat masing-masing orang hehe.

Ada juga yang bilang, nikah muda itu berisiko. Denger-denger, nikah muda itu bukan waktu yang tepat karena mental dan batin masih labil, belum mengerti apa apa tentang persoalan rumah tangga, atau yang pernah kudengar juga, masalah rahim yang belum kuat jika Allah titipkan janin dalam rahimnya. Wallahu'alam, semua juga balik lagi sama opini dan pendapat dari teman-teman.

Tapi, kalau ditanya, siapkah untuk nikah muda?

Dari dulu, perbincangan tentang nikah muda itu sudah tidak asing lagi di telingaku. Sejak SMP, SMA, bahkan semakin berapi-api di dunia perkuliahan. Dulu sering banget bilang, "Aku pengen nikah muda, biar blabalabla..." Padahal belum tentu juga jodoh nya dateng disaat yang kita mau haha.

Sebenarnya memikirkan masa depan itu sangat perlu, termasuk menikah salah satunya bukan? Itulah mengapa aku pun tak lepas memikirkan bagaimana persiapanku untuk ke sana. Eits, jangan lupa juga, yang lebih dekat sama kita selain pernikahan yaitu kematian. Persiapin juga tuh untuk ke sana. Hehehe.

Entah kenapa, setiap mikirin pernikahan tuh seru aja gitu. Dekorasinya bagaimana, setelah menikah aku bagaimana, suamiku bagaimana, dsb. Tapiiii........... Ketika saat itu tiba............

Ah. Semua berubah. Perasaan mendadak berbeda sejak pertanyaan itu menjadi serius. Sudah dua kali aku ditawarkan menikah, padahal masih semester 3 hahahaha. Bayangin, cuma ditanya "Udah siap nikah belum?", Itu rasanya deg-degan banget. Bener bener super duper deg-degan.

---

Seperti biasa, orangtua masih belum bisa melepaskanku untuk menikah bersamaan dengan kuliah. Di satu sisi aku pun bertanya,
"Apa aku ini udah siap?"
"Memangnya aku punya bekal apa?"
"Perasaan aku masih anak kecil.."
Ahhh, banyak pertanyaan yang menyudutkan diriku sendiri bahwa aku belum siap. Coba bayangkan, perempuan bertubuh kecil ini yang sering dianggap 'bocil' tiba-tiba diajak nikah. Perempuan yang masih suka makan ciki, eskrim, dan kekanak-kanakan ini sudah pantas untuk menikah? Ahaha, rasanya belum, masih jauh dari kriteria sebagai istri.

Memang, mungkin penolakan itu terjadi harus karena alasan yang syar'i. Alhasil kedua orangtua belum merestui, baiklah, ridho Allah ada pada Ridho mereka. Tak pantas rasanya jika aku menentang dan mengemis ridhonya. Apalah aku yang juga masih kuliah dan belum pantas menerima lamaran dari seseorang.

Entah, cita citaku menikah muda itu akan tercapai atau tidak. Tapi yang jelas, muda itu bukan berarti harus sekarang-sekarang juga ya wkwkwk. Serem juga nihhh kalo ditanya "udah siap nikah atau belum?", Tapi ngerjain tugas aja masih suka keteteran. Gimana tugas jadi seorang istri? Hahaha.

"Sabar, kalem, jangan buru-buru,"
Kata kakakku yang sudah menikah.

Yes, i'm agree. Jodoh akan datang di waktu yang tepat, sama siapapun itu, pastinya itu pilihan yang terbaik dari Allah. Semangaaaattt✨

Minggu, 09 Desember 2018

Berseri #Episode 3

12/09/2018 07:57:00 PM 6 Comments

Gadis kecil itu memasang muka melasnya. Ia kecewa karena rok kesukaannya dibuat sobek oleh Nufail. Melihatnya yang sedih, Nufail merasa sangat iba. Rasa bersalahnya pun semakin menjadi karena air mata yang menetes di pipi Salwa.

"Jangan menangis, maafkan kakak ya," kata Nufail yang ikut bersedih.
"Kakak tidak tau, rok itu sangat berharga untukku," jawab Salwa dengan nada kecewa.
"Kalau aku boleh tau, kenapa rok itu berharga untukmu, dek?" tanya Nufail penasaran.
"Ibuku menjahitkannya untukku, ia membuat rok itu setelah aku menangis karena ingin rok baru, tapi karena keluarga kami tidak mampu, jadi ibu membuat rok ini untukku," jelas Salwa.
"Kalau begitu, berarti ibumu pandai menjahit, bukan?" kata Nufail menawarkan diri untuk bertanggungjawab.
"Aku belum selesai," pangkas Salwa, "kini aku tidak bisa lagi meminta ibu memperbaiki rokku kak," lanjutnya.
"Karena?" jawab Nufail sambil memasang wajah serius.
"Ibuku sudah tidak ada, kak. Rok inilah yang terakhir kali ia buatkan untukku," kata Salwa.
"Innalillahi, maafkan kakak ya, Salwa," kata Nufail yang semakin merasa bersalah.
"Baiklah kak, tinggalkan aku, aku tau kakak masih banyak urusan di hari ini, benar begitu?" tanya Salwa, gadis kecil yang bicaranya sudah seperti orang dewasa itu.
"Bagaimana dengan rokmu?" tanya Nufail.
"Nanti kubilang nenek saja, sudah sana kakak pergi saja," usir Salwa kepada Nufail.
"Baiklah kalau begitu, lain kali jika aku bertemu dengan kamu lagi, kakak akan beri hadiah sebagai ucapan maaf kakak," janjinya kepada Salwa.
"Baiklah," kata Salwa.

Kemudian Nufail berpamitan dan mengucapkan salam kepada Salwa. Nufail berjalan sambil melambaikan tangannya dan menoleh ke belakang, ada perasaan tidak enak saat meninggalkan Salwa yang sedang bersedih, tetapi ia teringat janji bersama kakak tingkatnya untuk bertemu pagi ini.
Salwa yang masih saja bersedih masih duduk di tempat yang sama. Tiba-tiba ada seorang wanita menghampirinya.

"Siapa laki-laki yang menghampirimu tadi, Wa? Kakak melihatnya dari kejauhan," kata perempuan yang menyebut dirinya kakak.
"Dia lelaki yang sudah membuat rok aku sobek, kak. Dia baik tapi jahat," kata Salwa sambil mengeluh.
"Kamu ini lucu, baik tapi jahat itu bagaimana? Hihi," kata perempuan itu sambil tertawa kecil.
"Ah, sudahlah kak, aku kesal bahas ini. Lalu bagaimana dengan rokku kak, kita kan mau ke pasar?" tanya Salwa kebingungan.
"Yasudah, kita balik dulu ke rumah nanti kita ganti rokmu," jawab perempuan itu.
"Baiklah kak," kata Salwa.

----

Nufail sudah sampai di kampus. Dengan penampilannya yang rapi, ia sudah duduk di halaman dekat dengan gerbang kampus sambil menunggu kakak tingkatnya datang. Tiba-tiba, yang dinanti pun tiba. Seorang laki-laki yang juga berpenampilan rapi dan menggunakan tas selempang.

"Kamu Nufail?" tanya laki-laki itu.
"Iya, kak," jawab Nufail.
"Perkenalkan, namaku Rayyan, aku mahasiswa semester akhir di sini, hanya tinggal menunggu wisuda saja," kata Rayyan kepada Nufail.
"Oiya, jangan panggil aku kakak, panggil saja Bang Ray," lanjutnya.
"Ohh, baiklah, Bang Ray. Salam kenal, namaku Nufail. Aku baru saja menyiapkan keperluanku untuk magang," ujar Nufail.
"Wah, tepat sekali. Aku ingin mengajakmu magang di tokoku, kamu jurusan manajemen bisnis 'kan?" tanya Rayyan.
"Iya, bagaimana kakak bisa tau?" tanya Nufail, "Eh, Bang maksudnya!" tambahnya karena salah memanggil nama.
"Bagaimana bisa aku mengajakmu bertemu tanpa tau siapa dirimu, aneh aneh saja kau ini," kata Rayyan.
"Oh iya juga ya, kalau begitu apa yang ingin kakak bicarakan?" tanya Nufail.
"Berkaitan hal tadi, aku butuh kamu untuk ada di tokoku. Bulan depan, aku akan pergi ke Turki untuk mengurus beasiswa S2-ku. Aku juga akan menikah sebelum wisuda, aku pikir aku akan sibuk untuk beberapa bulan ke depan. Aku ingin kamu bantu aku mengurus bisnisku di sini. Aku tau kamu anak yang cerdas dan sholih," jelas Rayyan.
"MasyaAllah, rencana hidup yang terbaik," kata Nufail yang sedikit kaget.
"Alhamdulillah, ini rencana dari Allah juga. Jadi, bagaimana, apa kamu bersedia membantuku?" tanya Rayyan.
"Bersedia, Bang. Tapi sebelumnya kamu bimbing aku dulu ya, Bang," jawab Nufail.
"Pasti. Sebelum berangkat, akan kuberikan bekal untuk semuanya," jawab Rayyan.

Kesepakatan sudah terjadi. Nufail dan Rayyan sudah saling kenal dan bersepakat untuk saling membantu. Saat itu, mereka juga berbincang tentang banyak hal, mulai dari kegiatannya di kampus, tentang iman, bahkan tentang rencana Rayyan yang hebat itu. Nufail banyak bertanya padanya.

Setelah itu, Nufail pergi menuju kelas. Rayyan menunggunya nanti sore di tokonya. Dengan perasaan bahagia, Nufail berjalan sambil menebarkan senyumnya kepada teman-temannya. Seketika, saat ia ingin tersenyum pada seorang wanita, tiba-tiba wanita itu memalingkan wajahnya. Entah, mungkin ada yang salah dari senyum manisnya Nufail. Sambil memasang muka bingung, Nufail tiba di depan pintu kelas hingga terpentok pintunya. Duukk...

"Hey, jangan bengong Nufail!" kata Gio, teman sekelasnya.
"Iya, gi. Maaf.." kata Nufail.
"Kamu ini ada apa, tidak seperti biasanya," tanya Gio.
"Apa senyumku ini aneh, gi?" tanya Nufail.
"HAHA! Lucu kamu, Fail. Kamu sedang jatuh cinta ya?" kata Gio menggoda Nufail.
"Yang benar saja! Aku baru saja bertemunya satu kali, masa iya aku jatuh cinta?" kata Nufail.
"Aku melihatnya tadi di depan kelas, hahahaha" kata Gio sambil menertawakan Nufail.
"Apa aku terlihat jatuh cinta?" tanya Nufail kebingungan.
"Enggak sih. Tapi kamu senyum-senyum seperti itu," kata Gio.
"Aku hanya sedang bahagia, tapi ketika tadi aku senyum pada wanita itu, ia malah membuang mukanya dan tidak ingin melihatku," kata Nufail.
"Memang seperti itu dia orangnya," kata Gio.
"Kamu kenal dengannya?" tanya Nufail.
"Tentu kenal, dia itu teman SD-ku dulu. Kami baru bertemu saat kuliah lagi," kata Gio.
"Ohh begitu, memang sombong ya orangnya?" tanya Nufail.
"Bukan sombong, dia itu menjaga. Dari SD, dia memang hebat. Bisa menjaga pergaulannya dengan orang yang bukan mahramnya. Dia ini memang terkesan sombong, tetapi kalau sudah mengenalnya seru juga kok anaknya, cerdas, baik, begitulah," jelas Gio.
"..." Nufail terdiam.

"Ternyata, masih ada ya perempuan seperti itu," kata Nufail dalam hatinya. Wajar saja, di zaman sekarang ini sudah sulit menemukan seseorang yang bisa menjaga dirinya dari hal yang tidak diinginkan Allah. Kalaupun ada, dia adalah orang yang hebat. Allah begitu menjaganya, dan dia juga begitu menjaga Allah.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,

هذا أمر من الله تعالى لعباده المؤمنين أن يغضوا من أبصارهم عما حرم عليهم، فلا ينظروا إلا إلى ما أباح لهم النظر إليه ، وأن يغضوا أبصارهم عن المحارم

“Ini adalah perintah dari Allah Ta’ala kepada hamba-hambaNya yang beriman untuk menjaga (menahan) pandangan mereka dari hal-hal yang diharamkan atas mereka. Maka janganlah memandang kecuali memandang kepada hal-hal yang diperbolehkan untuk dipandang. Dan tahanlah pandanganmu dari hal-hal yang diharamkan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/41).

Ia ingat kata-kata dari ayahnya. Ayahnya pernah berkata bahwa ia harus menjaga pandangannya. Seketika ia tersadar bahwa wanita itu telah mengingatkannya pada pesan ayahnya itu. Ah, mungkin Nufail terlalu bahagia. Itulah mengapa ia tadi tersenyum pada semua orang.

"Hei, Nufail! Dijelasin malah bengong kamu nih," kata Gio.
"Iyaiya, maaf," kata Nufail.

Setelah itu, dosen masuk dan mulai pembelajaran. Nufail yang saat itu keheranan, kini mulai fokus belajar. Tapi yang menjadi  pertanyaan Nufail dalam hatinya adalah "Siapa wanita itu?". Wanita yang baru pertama kali dilihatnya di kampus ini.

------------------

Tunggu kelanjutan cerita Ber-Seri nya ya!

Sabtu, 01 Desember 2018

Berseri #Episode 2

12/01/2018 05:19:00 PM 1 Comments

Ada seorang pria tinggi besar menghampiri Nufail. Berdirinya dibantu oleh tongkat dan kepalanya mengenakan peci berwarna putih. Dilihatnya dari kejauhan, lalu Nufail menghampiri pria tersebut. Sepertinya pria yang tidak asing itu sengaja menarik perhatian Nufail agar mengikutinya.

Tanpa suara, pria itu terus berjalan perlahan namun pasti. Nufail mengikutinya dari belakang hingga tibalah mereka di suatu sungai yang indah. Lalu mereka berdua terdiam bertatapan.

"Ayah?" tanya Nufail pada pria itu.
"Iya, nak. Ini ayah. Bagaimana kabarmu dan Uma?" tanya pria yang diyakini ayahnya tersebut.
"Alhamdulillah kami baik-baik saja, yah. Kami sangat merindukanmu," kata Nufail sambil menitikkan air matanya.
"Jangan menangis, nak. Ayah sudah bahagia di sini karena doamu dan umamu," kata Ayahnya yang bernama Husein.
"Alhamdulillah kalau begitu, lantas untuk apa ayah membawaku ke sini?" tanya Nufail heran.
"Jadilah anak yang sholih, banggakan orang tuamu yang tersisa, jauhi hal-hal yang dibenci Allah, jangan pernah putus asa mencari ilmu, kemudian..." tiba-tiba Husein sengaja menghentikan pembicaraan.
"Apa, Ayah?" tanya Nufail penasaran.
"Jika kamu sudah menemukannya, maka menikahlah," kata Husein di kalimat terakhirnya.

Tiba-tiba, sesuatu jatuh ke dasar sungai. Percikan airnya membasahi tubuh Nufail. Kemudian, terdengar suara-suara wanita di telinga Nufail.

"Nufail...Nufail..." kata seorang wanita yang tak asing suaranya.

Seketika ia mencari suara itu.

"Nufail, bangun nak, ini Uma. Bangun...." ternyata itu Uma Aisyah yang khawatir karena Nufail tak kunjung sadar, kemudian memercikan air ke wajah Nufail.
"Uma......" kata Nufail sambil membuka matanya dengan perlahan.
"Apa yang terjadi denganmu, Nak?" tanya Uma khawatir.
"Aku mimpi bertemu ayah," kata Nufail yang saat itu nyawanya belum terkumpul.
"Sudah-sudah, ceritanya nanti saja. Sebaiknya kita segera mengambil air wudhu karena sebentar lagi azan isya akan berkumandang, lalu kita sholat berjamaah setelah itu Nufail harus segera pulang untuk istirahat," kata Pak Ustadz.
"Baik, ustadz," kata Nufail.

Kemudian mereka--Uma, Nufail, dan jamaah lain--melaksanakan sholat isya berjamaah. Setelah selesai, Nufail dan Uma segera berpamitan dan pulang ke rumah. Di perjalanan, Uma merangkul Nufail yang lemas sambil berbincang-bincang.

"Apa yang ayah katakan dalam mimpi?"tanya Uma.
"Ayah bilang, aku harus selalu menjadi anak yang sholih dan serta merta mendoakannya," jawab Nufail.
"Lalu?" Uma menanyakan kelanjutan cerita.
"Ia menyuruhku tetap menuntut ilmu," lanjut Nufail.
"Itu saja?" tanya Uma lagi.
"Tidak, terakhir beliau mengatakan jika aku sudah menemukannya maka menikahlah," kata Nufail sambil memasang wajah heran atas pesan sang ayah.
"Hmm, kalau begitu lakukanlah apa yang ia mau," kata Uma.
"Tapi, apa maksud pesan terakhir itu, Uma? Apa aku harus menikah?" tanya Nufail.
"Ya, tentu. Tapi jika sudah menemukannya bukan? Menemukan waktu yang tepat, menemukan jalan yang terbaik, dan menemukan orang terbaik," kata Uma.
"Iya, seperti uma saat bertemu ayah, hehehe" jawabnya sambil menggoda Uma.
"Ah, sudahlah, ayo masuk. Kamu harus segera istirahat," kata Uma.

Obrolan panjang tersebut ternyata menghantarkan mereka lebih cepat sampai di rumah. Walaupun hanya tinggal berdua bersama satu kucingnya, Hiro, mereka tetap menjadi keluarga yang bahagia. Setelah itu, Uma membuatkan teh hangat untuk Nufail agar besok tubuhnya bisa membaik.

"Nufail, bolehkah uma bertanya satu hal lagi?" tanya Uma tiba-tiba, sambil menaruh teh di meja samping tempat tidur Nufail.
"Boleh, Uma. Apa?" jawabnya.
"Bagaimana wajah ayahmu saat di mimpi? Uma sangat merindukannya," jawab Uma yang seketika haru.
"Bahagia, wajahnya berseri sekali. Ayah bilang dia bahagia karena kita selalu mendoakannya," kata Nufail yang kemudian memeluk sang Uma.

Teringat hadist dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ : إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seseorang meninggal dunia maka (pahala) amalnya terputus kecuali 3 perkara: shodaqoh jariyah, ilmu bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Setelah itu Nufail tidur. Uma yang melihat anaknya sudah tertidur pulas kemudian pergi ke kamarnya untuk istirahat.

Keesokan harinya, Nufail sudah bergegas siap-siap berangkat ke kampus. Tampaknya keadaan Nufail sudah membaik daripada kemarin. Pakaiannya yang rapi dengan kemeja biru muda serta celana hitam itu membuatnya terlihat lebih tampan dan bersemangat. Kepalanya yang juga mengenakan topi ikut menambah ketampanan dari seorang Nufail.

"MasyaAllah, tampan sekali anak Uma.." puji Uma sembari menyiapkan sarapan di meja makan.
"Ah, biasa saja Uma. Lalu hanya hari ini saja aku terlihat tampan?" rayu Nufail kepada Uma.
"Tidaklah, kamu sudah selalu tampan setiap hari," kata Uma.
"Uma bisa saja, doakan ya Uma, hari ini aku lebih rapi karena harus bertemu dengan kakak tingkatku di kampus," jelas Nufail.
"Perihal apa kamu bertemu dengannya?" tanya Uma.
"Aku ditawari pekerjaan sampingan uma, mohon doa ya.." kata Nufail dengan percaya diri.
"Doa Uma selalu menyertaimu, Nak," jawab Uma yang tiba-tiba suaranya melemah.

Kemudian, Nufail makan setangkap roti dan susu hangat yang dibuatkan oleh Uma. Sambil memperhatikannya makan, Uma tiba-tiba bersedih hati. Dipikirannya terlintas rasa iba terhadap anak satu-satunya itu, yang rela menghabiskan waktu untuk membantunya mencari uang, hingga diam-diam mencari pekerjaan sampingan di sela-sela kuliahnya.

Pemuda yang bertanggungjawab itu telah selesai makan, lalu ia mengecup kening Uma dan mencium tangannya untuk berpamitan pergi ke kampus. Seperti biasa, ia berjalan dulu ke pangkalan angkutan umum. Tiba-tiba di tengah perjalanannya, Nufail melihat seorang anak kecil sedang kesulitan menarik roknya yang tersangkut pagar rumah tetangganya. Tidak tega, akhirnya Nufail menghampiri adik kecil berjilbab itu.

"Sini kakak bantu," kata Nufail sambil tersenyum.
"Jangan pegang tanganku kak! Kita bukan mahram," kata anak kecil bersuara nyaring itu.
"Gemas kamu, namanya siapa?" tanya Nufail.
"Salwa," jawab gadis kecil yang masih repot karena roknya yang tersangkut pagar tetangga.
"Pantas saja, wajahmu manis seperti madu," kata Nufail menggoda gadis tersebut.
"Hish, kalau kakak gombal terus kapan kakak akan menolong aku?" tanya Salwa yang mulai geram.
"Haha, iya iya. Maaf. Sini kaka bantu," jawab Nufail yang sambil senyum.

Kemudian Nufail membantu menarik rok Salwa yang tersangkut itu. Sssrrrkkkk......
Ah, sobek! Bagaimana ini?

------------------

Tunggu kelanjutan cerita Ber-Seri nya ya!

Kamis, 29 November 2018

Pergilah.

11/29/2018 12:49:00 AM 1 Comments

Ada yang perlu kita sadari,
Bahwa terlalu dekat dengan seseorang kadang menimbulkan penyakit hati
Terkadang hati menjadi terlalu peka,
Sehingga merasakan apa yang tidak seharusnya kita rasakan.
Rasa bahagia berlebihan,
Rasa peduli berlebihan,
Atau bahkan rasa sakit hati yang berlebihan.
Bermain-main dengan api memang membuat celaka,
Walaupun pada dasarnya kita tidak niat untuk celaka.
Jauh sebelum perkenalan itu ada,
Mungkin tak pernah tergambar jika akan sejauh ini.

Pergilah,
Rasa sakit ini terlalu aneh
Rasanya terlalu berlebihan
Bukan untukku, seharusnya untuk orang lain di luar sana.
Pergilah,
Rupanya kamu lebih nyaman dengannya,
Tidak. Bukan padaku, dan bukan aku orangnya.
Selama ini aku hanya salah paham,
Salah memahami diriku sendiri yang nekad mencari jalan pintas.

Pergilah,
Sudah terlalu sakit melihat kamu dengan dia,
Dia
Dia
Atau dia
Ah, sudahlah.
Terlalu banyak dia.
Aku tak sanggup lagi berpura-pura bahagia lalu seakan mengejekmu untuk bercanda.
Ah, memang payah!
Kadang hati tak bisa diajak kompromi.
Kalau sudah patah, ya patah.
Tak bisa balik semula lagi.

Pergilah,
Lepaskan balon harapanku yang aku erat sekian lama.
Biarkan harapan itu terbang tanpa pengawal.
Biarkan, biarkan dia menghilang.
Jangan sampai kembali lagi,
Aku sudah terlalu lelah menggenggamnya.

---

(Terinspirasi oleh kisah nyata seseorang)
Katanya untuk kamu nih.

Minggu, 25 November 2018

Berseri #Episode 1

11/25/2018 06:45:00 PM 12 Comments

Hujan itu mereda. Sejak tadi siang jalanan basah karenanya. Suasana dingin kini tercipta pada sore itu di Desa Pandaan. Para warga kini bergegas keluar rumah lalu melanjutkan aktivitas yang sempat tertunda. Begitupun dengan Nufail, pria bertubuh besar yang setiap sore harus berkebun.

"Uma, Nufail izin keluar untuk berkebun. Uma tidak apa-apa sendirian di rumah?" kata Nufail saat berpamitan pada sang uma, Aisyah.
"Baiklah, nak. Uma tidak keberatan," jawab Uma sedikit berteriak dari dapur.
"Assalamualaikum," pamit Nufail.
"Wa'alaykumussalam.." jawab Uma.


Kemudian Nufail mengambil peralatan berkebunnya di samping rumah, lalu bergegas melangkahkan kaki ke kebun yang berjarak kurang lebih 100 meter dari rumahnya. Kebun tersebut adalah warisan dari sang ayah yang sudah lama pergi menghadap sang pencipta. Itulah mengapa, Nufail diamanahkan sang ayah untuk menjaga kebunnya, jangan sampai dijual. Nufail juga pernah berjanji dalam dirinya akan selalu merawat dan menjaga kebun milik ayahnya itu.

Sesampainya Nufail di kebun, ada seorang lelaki tak dikenal sedang melihat-lihat kebun milik ayahnya. Nufail berjalan perlahan sambil memperhatikan siapakah yang ada di kebun milik ayahnya tersebut. Wajah lelaki itu tidak terlalu terlihat, karena matanya tertutup kacamata hitam dan rambutnya tertutup topi yang dikenakannya. Tubuhnya tidak terlalu kekar, tetapi pandangannya seperti serius memperhatikan kebun itu.

Seketika ia khawatir, Nufail berteriak dari kejauhan, "Hey, siapa kamu?!"

Setelah lelaki itu mendengar teriakan Nufail, seketika ia lari dan menghilang. Nufail mengejarnya dengan cekatan. Tetapi lelaki itu sudah jauh pergi tak terkejar olehnya.

"Siapa lelaki itu? Mau apa dia di sini?" tanya Nufail dalam benaknya.
"Sudahlah, bismillah, aku lanjutkan saja pekerjaanku," kata Nufail.

Kemudian, Nufail membersihkan rerumputan liar yang ada di kebunnya. Setelah itu, ia mengisi air untuk menyirami tanaman yang sebentar lagi panen. Di kebun milik ayahnya itu, Nufail menanam sayur mayur seperti tomat, wortel, sawi, dan bawang-bawangan. Setiap panen, ia juga suka menjualnya ke pasar sebagai penghasilan tambahan.

Nufail adalah seorang pemuda yang bertanggungjawab. Selain membantu uma mengurus kebun, ia juga giat belajar dan tidak meninggalkan kuliahnya. Perjalanannya dari desa ke kota merupakan bentuk perjuangannya menimba ilmu. Ia selalu percaya hadist ini,

Rasulullah dalam sabdanya mengatakan bahwa perjalanan mencari ilmu merupakan salah satu jalan yang memudahkan kita menuju surga. “Barang siapa yang menapaki suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Ibnu Majah & Abu Dawud).

Ayahnya pun selalu mengingatkannya sejak dulu. Itulah yang membuat Nufail tidak pernah mengeluh karena jarak kampusnya menuju rumah tidak sedekat oranglain. Padahal pernah suatu ketika, sang uma menjual kambingnya untuk membelikan Nufail sebuah sepeda motor, agar mudah dan cepat sampai kampus katanya. Tetapi motor itu kembali dijual oleh Nufail, karena menurutnya itu bukan jalan keluar yang baik. Sepeda motor hanya akan menambah pengeluaran saja, seperti bensin atau mungkin biaya tak terduga jika terjadi sesuatu pada motornya.

"Sudah uma, nanti jika kita punya rezeki lebih pasti Nufail belikan motor atau bahkan mobil untuk kita," kata Nufail kala itu.
"Jangan terlalu banyak berkhayal, hasil penjualan kambing ini cukup untuk membeli motor saja Uma sudah bersyukur, lalu kenapa kamu menolaknya?" tanya Uma.
"Masih banyak keperluan lain yang lebih kita butuhkan, Uma. Lebih baik kita jual kembali saja motornya, insyaAllah Nufail jual dengan harga yang lebih tinggi, bagaimana?" kata Nufail kepada Uma.
"Baiklah, terserah kau saja, nak. Uma ikut denganmu," jawab Uma pasrah.

Akhirnya, saat itu mereka sepakat untuk menjual kembali sepeda motornya. Seperti biasa, Nufail mengendarai angkutan umum untuk pergi ke kota menuntut ilmu. Ya, walaupun harus jalan dulu beberapa meter dari rumah hingga ke pangkalan. Tapi jika itu dilakukan dengan ikhlas karena Allah, insyaAllah semuanya bisa jadi berkah.

-----------

Azan maghrib telah berkumandang, saatnya Nufail kembali ke rumah setelah berkeringat di kebun. Sesampainya di rumah, ia harus bergegas membersihkan diri dan segera pergi ke masjid untuk shalat berjamaah. 

"Uma, Nufail pergi dulu ya ke masjid, Uma jangan lupa shalat, Assalamualaikum," pamit Nufail menuju masjid.
"Iya, nak. Uma juga sudah wudhu, ini mau sholat. Wa'alaikumussalam," jawab Uma.

Selang beberapa menit kemudian, datang seorang anak kecil bernama Nabil. Ia berlari dari masjid dan mengetuk-ngetuk pintu rumah Nufail.

"Assalamualaikum, umaaa...! umaaa...!" teriak Nabil.

Uma yang baru saja selesai berdoa lalu segera membuka pintu dengan mukena yang masih melekat pada tubuhnya.

"Waalaikumussalam, Nabil. Ada apa maghrib-maghrib begini teriak teriak ke rumah Uma?" tanya Uma pada Nabil.
"Uma, bang Nufail umaaa!" kata Nabil sambil gelisah.
"Bang Nufail kenapa?! Apa yang terjadi, Nabil?" kata Uma yang kini ikut gelisah.
"Selepas sholat berjamaah di masjid, Bang Nufail duduk sambil membaca Alquran, kemudian ia terlihat seperti tertidur, lalu ketika diajak berbicara ia tidak bangun, Uma," jelas Nabil.
"Benarkah? Lalu apa yang terjadi dengan Nufail?" tanya Uma khawatir.
"Sekarang Bang Nufail ada di masjid bersama pak Ustadz, ia belum sadarkan diri, Uma. Badannya panas sekali," kata Nabil.
"Innalillahi.. Yaudah, sekarang, kamu kembali ke masjid. Nanti Uma menyusul," kata Uma.
"Baik, Uma. Assalamualaikum," pamit Nabil sambil terburu-buru.
"Wa'alaikumusalam," jawab Uma.

Kemudian Uma bergegas merapikan mukena dan pergi ke masjid melihat keadaan Nufail.

------------------

Tunggu kelanjutan cerita Ber-Seri nya ya!

Jumat, 09 November 2018

Sajak : Semangat Selalu, Senyumku.

11/09/2018 08:40:00 PM 0 Comments
Hari itu, hari pertama kali kita bertemu.
Rasanya sungguh aneh,
Seseorang yang tidak mengenalku tetapi memalingkan wajahnya padaku,
Tak hanya itu, dia juga melekukkan bibirnya untukku,
Lalu matanya pun berbinar seakan menyambut bahagia pagi itu.

Hey pemilik senyuman itu.
Terima kasih karena saat itu kamu telah memberikan senyum sederhanamu kepadaku,
Walaupun terkesan biasa saja tapi aku bahagia,
Kamu adalah sosok yang selalu menyebarkan energi positif melalui senyumanmu.

Hey seseorang yang tak kukenal,
Ternyata waktu dan kesibukan membuat kita bertemu,
membuat kita saling mengetahui satu sama lain,
Ya walaupun tidak saling mengenal, tapi saat kutahu bahwa kau mengenalku saja aku sudah merasa cukup. Heheh.
Sesederhana ini perasaan bahagia yang kaubuat untuk orang disekitarmu.

Hey kamu yang sedang belajar memimpin,
Aku harap kamu bisa menjadi sebaik-baik pemimpin,
Sebab, suatu saat nanti kamu akan menjadi pemimpin yang sesungguhnya,
Pemimpin yang akan menjadi penuntun langkah,
Pemimpin yang akan menjadi penentu arah.

Hey, kamu yang tak pernah kusapa 
Entah mengapa setiap kita bertemu hatiku merasa tidak beres, 
seperti ada yang berdegup kencang di dalamnya.
Apalagi setiap kamu menyapa aku duluan....

Hey, kamu yang wajahnya selalu bersinar
Terima kasih sudah membuat aku semangat setiap hari,
walaupun tidak setiap hari kita bertemu, 
tapi wajahmu selalu terpancar semangat positif untuk orang lain,
termasuk untuk aku.

Semangat selalu, jangan pulang malam terus.
Di balik kegiatan yang banyak, ada tubuh yang butuh dijaga dan diperhatikan :)
Semangat sellau, senyumku. Terima kasih sudah membuatku tersenyum karena senyummu.

:)